Aceh, Sekaltim.co – Fenomena tanah amblas atau sinkhole di Aceh Tengah meluas, pelan tapi nyata. Di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, lubang besar kian melebar, kian mendekat, kian mengancam badan jalan lintas Blang Mancung–Simpang Balik. Jalan ini bukan sekadar aspal. Ia urat nadi. Ia penghubung Aceh Tengah dan Bener Meriah.
Fenomena tanah amblas terjadi di Jalan Retribusi Aceh Tenga. Lokasinya kritis. Retakan tanah terlihat jelas. Permukaan turun perlahan. Jarak antara titik amblas dan badan jalan kini hanya sekitar satu meter.
Fakta ini terekam jelas lewat video drone yang viral di media sosial sejak Minggu, 11 Januari 2026. Dari udara, ancaman itu tampak nyata. Dari darat, kecemasan terasa nyata bagi warga.
Mereka waswas. Pengguna jalan waspada, terutama saat hujan deras turun tanpa jeda. Longsor susulan bisa datang kapan saja. Jika jalan putus, mobilitas lumpuh. Distribusi hasil pertanian tersendat. Perekonomian warga ikut terseret.
Bukan kali pertama. Sejarah mencatat, fenomena serupa sudah terjadi sejak 2006. Bahkan, akses Blang Mancung–Simpang Balik sempat terputus kala itu.
Data ESDM Aceh memperkuat kekhawatiran. Pada 2011, luas longsor tercatat 7.982 meter persegi. Tahun 2015 meningkat jadi 12.193 meter persegi. Maret 2019 melebar hingga 19.498 meter persegi.
Angka terus naik. September 2021 menjadi 20.199 meter persegi. Desember bertambah lagi menjadi 23.213 meter persegi. Juni 2022 melonjak ke 24.351 meter persegi. Terakhir, Februari 2025, luasan tanah amblas mencapai 27.918 meter persegi. Angka yang tak bisa diabaikan.
Kepala BPBD Aceh Tengah, Andalika, menyebut fenomena ini bukan sinkhole klasik. Ini adalah pergerakan tanah lambat atau slow moving landslide. Penyebabnya kompleks. Struktur tanah labil. Material vulkanik jenuh air. Curah hujan tinggi. Lereng curam. Retakan lama jadi jalur air. Ditambah beban jalan dan faktor gempa.
“ESDM Aceh sudah melakukan pengukuran pertambahan luasan longsoran tanah,” ujarnya kepada wartawan, Selasa 13 Januari 2026.
Kini harapan menguat agar tanah amblas di Aceh Tengah segera mendapatkan perhatian karena warga menunggu langkah nyata. Penanganan cepat diperlukan sebelum jalan kembali terputus, sebelum wilayah terisolasi. Sebelum cerita lama terulang kembali. (*)



