Catatan Sejarah Gempa Katalog BMKG di Kalimantan Sejak 1921 hingga 2025

Sekaltim.co – Selama ini banyak yang mengira Pulau Kalimantan adalah kawasan dengan sejarah yang aman dari gempa bumi. Tapi siapa sangka, dari catatan sejarah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) justru menunjukkan sebaliknya. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Dr. Daryono, dalam keterangan tertulisnya, Jumat 7 November 2025 mengungkap bahwa Kalimantan bukan wilayah bebas gempa.
Daryono menerangkan data Katalog Gempa BMKG terkait sejarah bahwa meskipun aktivitas seismik getaran gempa di pulau Kalimantan ini lebih rendah dibanding Sumatra, Jawa, atau Sulawesi, potensi gempa merusak tetap ada.
“Kalimantan bukan wilayah bebas gempa, dan potensi gempa merusak tetap ada, meskipun aktivitas seismiknya lebih rendah dibanding kawasan lain di Indonesia seperti Sumatra, Jawa, atau Sulawesi,” ungkap Daryono.
BMKG bahkan mencatat setidaknya ada 10 peristiwa gempa signifikan yang mengguncang Kalimantan sejak tahun 1921 hingga 2025. Beberapa di antaranya bahkan menimbulkan kerusakan besar, termasuk tsunami.
Dari Tsunami Sangkulirang hingga Gempa Tarakan 2025
Catatan pertama terjadi pada 14 Mei 1921, ketika wilayah Sangkulirang, Kalimantan Timur diguncang gempa besar yang memicu tsunami. Skala intensitasnya mencapai VII–VIII MMI, artinya banyak bangunan roboh dan wilayah pesisir hancur diterjang gelombang pasang.
Dua tahun kemudian, Tarakan kembali menjadi sorotan. Gempa 19 April 1923 dengan kekuatan M7,0 mengguncang kota tersebut, menyebabkan banyak rumah rusak dan tanah retak di berbagai titik. Getarannya terasa hebat, setara skala intensitas VII–VIII MMI.
Belum pulih benar, Tarakan kembali diguncang pada 14 Februari 1925. Guncangan kuat dengan skala VI–VII MMI kembali merusak rumah-rumah warga. Lalu pada 28 Februari 1936, gempa ketiga berkekuatan M6,5 kembali melanda. Fenomena berulang ini memperlihatkan betapa aktifnya Sesar Tarakan di bagian utara Kalimantan.
Lompat ke era modern, gempa Pulau Laut Kalimantan Selatan pada 5 Februari 2008 juga tak kalah mengagetkan. Dengan kekuatan M5,8, guncangan terasa kuat di berbagai daerah hingga ke Balikpapan dan Majene, Sulawesi Barat. Beberapa gedung di Kotabaru bahkan mengalami retakan akibat getaran hebat tersebut.
Aktivitas Gempa Tak Pernah Benar-Benar Hilang
Setelah itu, 21 Desember 2015, Tarakan kembali bergetar. Gempa M6,1 yang dipicu oleh Sesar Tarakan menyebabkan puluhan rumah rusak dan memunculkan 16 kali gempa susulan. Guncangannya dirasakan kuat hingga Nunukan dan Tanjung Selor.
Kemudian, 24 Juni 2016, gempa M5,1 terjadi di Kendawangan, Kalimantan Barat. Menariknya, gempa ini dipicu sesar aktif di dasar laut yang belum terpetakan sebelumnya. Guncangannya terasa di berbagai daerah pesisir selatan Kalimantan Barat, seperti Ketapang, Benua Kayong, hingga Pulau Kucing. Beberapa rumah warga pun mengalami kerusakan ringan.
Tak berhenti di situ, 14 Juli 2018, gempa berkekuatan M4,2 mengguncang Katingan, Kalimantan Tengah. Meski skalanya kecil, getarannya cukup terasa di Kasongan dan sekitarnya, bahkan menyebabkan satu rumah warga rusak ringan.
Lalu pada 13 Februari 2024, gempa M4,8 mengguncang Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Pusat gempa berada di kedalaman dangkal, hanya sekitar 10 km, dan dipicu oleh Sesar Meratus. Getarannya terasa hingga Banjarmasin, Martapura, hingga Palangkaraya, dan mengakibatkan ratusan rumah rusak, termasuk satu sekolah dasar di Banjarmasin.
Gempa Tarakan 2025: Bukti Kalimantan Masih Bergerak
Yang terbaru adalah gempa pada 5 November 2025 di wilayah Tarakan. Hempa dangkal dengan kekuatan M4,8 mengguncang wilayah tersebut. Meskipun magnitudonya tidak terlalu besar, dampaknya cukup terasa. Pusat gempa berada di laut, 24 km sebelah tenggara Tarakan, dengan kedalaman 10 km.
BMKG mencatat, guncangan terasa kuat di Tarakan, Pulau Bunyu, Tanjung Selor, Berau, hingga Nunukan. Di beberapa titik seperti Kampung Empat dan Mamburungan, gempa ini menyebabkan dua rumah rusak berat, dua rumah rusak sedang, serta tiga pusat perbelanjaan terdampak.
Sesar Tarakan: Ancaman Tersembunyi di Utara Kalimantan
Dari catatan sejarah BMKG, terlihat jelas bahwa Tarakan telah diguncang gempa berulang sejak 1923, 1925, 1936, hingga 2025. Semua peristiwa itu dipicu oleh Sesar Tarakan, salah satu sesar aktif di utara Kalimantan.
Sesar ini masih menyimpan potensi gempa signifikan di masa mendatang. Karena itu, Daryono menekankan pentingnya pembangunan tahan gempa di wilayah-wilayah yang pernah terdampak, terutama Tarakan dan sekitarnya.
“Gempa dangkal di permukiman padat bisa sangat merusak,” ungkapnya.
Saatnya Waspada, Bukan Panik
Kalimantan memang tak sesering wilayah lain dalam hal aktivitas gempa, tapi bukan berarti aman sepenuhnya. Dengan catatan sejarah yang cukup panjang, sudah seharusnya masyarakat lebih sadar akan mitigasi bencana.
Peningkatan kesadaran, simulasi evakuasi, dan pembangunan infrastruktur tahan gempa perlu menjadi prioritas, terutama di wilayah dengan catatan aktivitas sesar aktif seperti Tarakan dan sekitarnya.
Karena bumi Kalimantan menyimpan sejarah gempa, meski tampak tenang, ternyata menyimpan sejarah panjang guncangan yang tak boleh diabaikan. (*).









