Heboh Video Satwa Mirip Pesut, BKSDA Kaltim Beri Klarifikasi Resmi
Sekaltim.co – Belakangan ini jagat media sosial kembali riuh akibat sebuah video singkat beredar luas yang menampilkan seekor satwa yang mirip pesut Mahakam sedang dipegang seorang warga sambil berjoget.
Tayangan satwa yang mirip pesut Mahakam itu cepat menyebar, menuai komentar, emosi, dan kekhawatiran, Senin 12 Januari 2026. Banyak warganet kemudian menandai akun resmi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur (Kaltim), berharap ada penjelasan jelas agar tak terjadi salah tafsir di tengah publik.
Menjawab keresahan tersebut, BKSDA Kaltim akhirnya angkat suara. Dalam klarifikasi resmi tertulis yang disampaikan pada Senin, 12 Januari 2026, BKSDA menegaskan bahwa satwa dalam video viral tersebut bukan Pesut Mahakam.
Satwa itu diidentifikasi sebagai Finless Porpoise atau Gondal nirsirip, mamalia laut yang berbeda spesies dan habitat.
“Satwa yang diduga sebagai pesut bukanlah pesut Mahakam, melainkan Finless Porpoise (Gondal nirsirip), yaitu jenis mamalia laut yang berbeda spesies,” demikian BKSDA Kaltim dalam keterangan tertulis di akun media sosialnya.
Tak hanya itu, hasil penelusuran juga menunjukkan lokasi pengambilan video berada di luar wilayah Provinsi Kaltim. Artinya, isu ini tidak berkaitan langsung dengan kawasan konservasi Pesut Mahakam di Sungai Mahakam.
BKSDA Kaltim menjelaskan, penanganan satwa liar harus mengacu pada wilayah kejadian sesuai aturan hukum. Hal ini merujuk pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang perubahan atas UU Nomor 5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
Selain itu, berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor 862 Tahun 2025, kewenangan pengelolaan konservasi satwa laut tertentu, termasuk pesut, kini berada di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Meski begitu, viralnya video tersebut kembali mengingatkan publik pada kondisi Pesut Mahakam yang kian kritis. Mamalia air tawar endemik Kalimantan Timur ini hanya hidup di Sungai Mahakam.
Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) yang disebut juga Irrawaddy Dolphin Kepalanya bulat, tanpa moncong panjang, berwarna abu-abu, dengan sirip punggung kecil dan tumpul. Pesut memang mirip lumba-lumba, namun habitatnya sepenuhnya sungai, bukan laut.
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) per Juli 2025 mencatat, populasi Pesut Mahakam kini hanya tersisa 62 ekor. Yayasan Konservasi RASI bahkan melaporkan tingkat kelahiran yang terus menurun, dengan hanya enam bayi pesut yang tercatat.
Hampir 70 persen kematian disebabkan rusaknya habitat sungai, mulai dari pencemaran limbah tambang batubara, lalu lintas kapal, hingga praktik perikanan ilegal.
Status Pesut Mahakam pun tak main-main. Spesies ini masuk kategori Critically Endangered versi IUCN dan tercantum dalam Appendiks I CITES, daftar satwa paling terancam punah di dunia. Artinya, perdagangan dan eksploitasi satwa ini dilarang keras, kecuali untuk kepentingan penelitian ilmiah.
Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa angka 62 bukan sekadar statistik. “Angka ini bukan sekadar data statistik, namun juga indikator kuat degradasi ekosistem yang memerlukan perhatian dan tindakan segera,” ujarnya beberapa waktu lalu. Jika pesut hilang, Mahakam kehilangan ikonnya. Sungai kehilangan ruhnya. Dan Indonesia kehilangan satu-satunya lumba-lumba air tawarnya.
BKSDA pun mengajak masyarakat untuk lebih bijak menyikapi informasi viral seperti satwa yang mirip pesut. Verifikasi sebelum berbagi. Peduli tanpa panik. Karena menjaga pesut bukan sekadar soal satwa, tapi tentang masa depan sungai, manusia, dan kehidupan yang saling terikat. (*)









