HUT Sultan Adji Muhammad Arifin 75 Tahun, Doa dan Penghormatan Mengalir
Sekaltim.co – Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-21 Adji Muhammad Arifin merayakan usia 75 Tahun. Usia boleh bertambah, tapi wibawa dan kebijaksanaan tak pernah pudar.
Sultan Adji Muhammad Arifin, Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-21, genap berusia 75 tahun pada 9 Februari 2026. Di Kedaton Kutai Kartanegara, Tenggarong, doa-doa dipanjatkan, adat dijunjung, dan rasa hormat mengalir dari berbagai penjuru Kalimantan Timur.
Lahir di Wassenaar, Provinsi Zuid-Holland, Belanda, pada 9 Februari 1951, Sultan Adji Muhammad Arifin merupakan anak ke-2 sekaligus putra pertama dari Sultan Adji Muhammad Salehuddin II dan Permaisuri Adji Ratu Aida. Takdir membawanya pulang ke tanah leluhur, hingga akhirnya dinobatkan sebagai Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-21 pada 15 Desember 2018 di Museum Mulawarman, menggantikan ayahandanya.
Sejak itu, Sultan Arifin dikenal sebagai sosok pemimpin adat yang rendah hati, konsisten, dan teguh menjaga nilai tradisi. Bergelar Dr. Adji Muhammad Arifin, M.Si, Sultan aktif memimpin berbagai upacara adat, termasuk Erau, pesta adat terbesar di Kutai Kartanegara yang kini menjelma sebagai agenda budaya bertaraf internasional.
Di tengah kehidupan modern, peran Sultan tak berhenti pada simbol adat semata. Ia kerap dilibatkan sebagai penasihat pemerintahan daerah, terutama dalam isu persatuan, pelestarian budaya, dan pembangunan berbasis kearifan lokal. Tak jarang, posisi Sultan disejajarkan dengan kepala daerah dalam berbagai agenda resmi.
Hari Kaseh Selamat
Peringatan HUT ke-75 Sultan Kutai Kartanegara digelar melalui prosesi adat Hari Kaseh Selamat, Senin 9 Februari 2026, di kawasan Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Prosesi sakral ini menjadi penanda perjalanan usia, pengabdian, dan kebijaksanaan Sultan dalam menjaga warisan luhur Kesultanan.
Acara tersebut dihadiri tokoh-tokoh penting daerah dan nasional. Tampak hadir Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji beserta istri, Bupati Kutai Kartanegara Dr. Aulia Rahman Basri, Wakil Bupati Kukar H. Rendi Solihin, jajaran Forkopimda Provinsi Kaltim dan Kabupaten Kukar, Ketua DPRD Kukar Ahmad Yani, pimpinan OPD, BUMN, BUMD, hingga mantan Gubernur Kaltim Isran Noor dan mantan Wakil Gubernur Hadi Mulyadi serta Wali Kota Samarinda Andi Harun.
Turut hadir pula Kasrem 091/ASN, Kolonel Kav Rahyanto Edy Yuniarto, Kabid Propam Polda Kaltim Kombes Pol Prianto Teguh Nugroho, kerabat Kesultanan, serta para undangan lintas elemen masyarakat.
Rangkaian acara diisi dengan Tari Topeng Panah Buana dan Tari Kanjar Ganjur, mencerminkan kekayaan seni dan simbol spiritual Kesultanan. Dalam sambutannya, Aji Pangeran Mangkupati mewakili kerabat Kesultanan menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran para undangan serta doa agar Sultan senantiasa diberikan kesehatan, keberkahan, dan kekuatan lahir batin.
Momentum tersebut juga diisi dengan tausiyah hikmah milad, mengajak hadirin mensyukuri usia, mengambil pelajaran dari perjalanan hidup, dan mendoakan agar Sultan terus diberi kebijaksanaan dalam mengemban amanah adat.
Penghormatan Pemerintah Daerah
Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji dalam sambutannya menegaskan bahwa Hari Kaseh Selamat bukan sekadar perayaan usia, melainkan momentum memuliakan Sultan sebagai pemimpin adat yang mengayomi dan mempersatukan.
“Kita patut menunjukkan rasa hormat dan memuliakan Sultan sebagai penjaga nilai sejarah dan budaya. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berkomitmen untuk terus berdiri bersama Kesultanan dalam melestarikan budaya sebagai bagian dari pembangunan daerah,” ujarnya.
Menurut Seno Aji, pelestarian adat, bahasa, seni, dan nilai Kesultanan menjadi fondasi penting agar kemajuan daerah tidak mencabut jati diri masyarakat Kalimantan Timur. Sinergi antara Kesultanan, pemerintah, dan masyarakat disebutnya sebagai kunci pembangunan yang berakar kuat pada budaya.
Sultan di Mata Bangsa
Wibawa Sultan Adji Muhammad Arifin bahkan pernah menjadi sorotan nasional. Pada 12 Januari 2026, saat Presiden Prabowo Subianto meresmikan kilang minyak terbesar di Indonesia di Balikpapan, Presiden secara spontan meminta agar Sultan tidak duduk di belakang para pejabat.
“Hadir Yang Mulia. Sultan kok ditaro di belakang?” ujar Presiden Prabowo sambil meminta agar Sultan diberi tempat di depan. Momen tersebut menjadi simbol kuat penghormatan negara terhadap pemimpin adat dan nilai budaya Nusantara.
Sultan Adji Muhammad Arifin kini telah menginjak usia 75 tahun namun tetap berdiri sebagai penjaga marwah Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Bagi masyarakat Kalimantan Timur, Sultan bukan hanya pemimpin, melainkan simpul persatuan, penuntun adat, dan penanda identitas sejarah yang terus hidup dari generasi ke generasi. (*)









