
Kukar, Sekaltim.co – Mengenal Museum Kayu Tuah Himba adalah mengenang kembali detik-detik yang dipahat dari masa silam. Di Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim), sebuah bangunan dari kayu—lahir di tahun 1990-an— berdiri anggun di tepian Waduk Panji Sukarame, sekitar tiga kilometer dari hiruk pusat kota.
Di dalam Museum Kayu Tuah Himba, cerita-cerita masa silam bersemayam. Ada guci yang bukan dari tanah liat, tetapi dari batang kayu tua— menyimpan bukan hanya air, melainkan jejak seni yang tak lapuk digerus zaman.
Ada lebih dari 220 jenis kayu Kalimantan, dari ulin yang tangguh hingga jenis-jenis kayu yang kini nyaris tinggal nama. Ada ukiran Dayak Kenyah, patung kecil penutur tradisi, miniatur Betang yang memanggil ingatan akan rumah panjang nenek moyang.
Ada rotan yang dibentuk menjadi perabot, lampu, dan kursi— kering namun hidup dalam sentuhan tangan pengrajin. Ada fosil kayu berusia ratusan tahun yang telah menjelma batu, daun-daun yang diawetkan, dibungkus rapi seperti halaman terakhir sebuah buku alam.
Dan seekor buaya muara sepanjang enam meter— yang dulu menggemparkan Sangatta di tahun 1996— kini terlelap abadi di ruangan museum, menjadi saksi bisu betapa luas dan purbanya tanah ini.
Museum bukan sekadar ruang; ia adalah guru yang sabar. Ia mengajak siapa pun yang datang untuk mencintai hutan, tanah, air, dan napas Kalimantan.
Pada Kamis, 27 November 2025, angin di Tenggarong membawa kabar hangat. Asisten II Setkab Kukar, Ahyani Fadianur Diani, membuka Festival Museum Kayu Tuah Himba— sebuah perayaan tiga hari, 27-29 November 2025, yang merangkai seni, edukasi, dan dunia digital dalam satu tarian.
Festival ini seperti ajakan lembut kepada anak muda, pencipta konten, para pejalan, untuk kembali pulang ke akar budaya mereka. Bahwa museum bukan tumpukan kayu berdebu, melainkan ruang kreatif, panggung cerita, dan titik temu generasi.
“Kemarilah,” seolah museum berbisik, “ambil gambar, rekam momen, tunjukkan pada dunia
bahwa budaya lokal Kalimantan Timur tak pernah kehilangan cahaya.”
Dalam sambutan yang dibacakan Ahyani, Bupati Kukar menegaskan: Museum Tuah Himba adalah harta yang tak ternilai. Di dalamnya tersimpan wajah Kalimantan: fosil kayu, rotan, ukiran Dayak, musik tradisional, hingga buaya raksasa yang menjadi legenda.
Namun pandemi menyisakan luka. Dulu museum bisa menyambut 20–25 pengunjung per hari; kini hanya 4 atau 5. Sebuah tanda bahwa ia memanggil bantuan.
“Kita harus jujur mengakui adanya tantangan besar. Sejak pandemi Covid-19, terjadi penurunan pengunjung yang cukup drastis. Jika sebelumnya museum ini mampu menarik 20-25 pengunjung per hari, kini angkanya menurun menjadi sekitar 4-5 pengunjung per hari. Kondisi ini menjadi sinyal bagi kita semua bahwa museum memerlukan sentuhan baru,” demikian Akhyani mengungkapkan.
Revitalisasi, kata Bupati, bukan hanya memperbaiki dinding yang retak atau menambah koleksi baru. Ini tentang membangunkan kembali cerita di balik benda-benda itu, membuatnya bermakna bagi generasi yang tumbuh dengan layar, agar mereka juga merasa menjadi bagian dari sejarah ini.
“Revitalisasi ini bukan hanya sekadar memulihkan bangunan fisik atau menambah koleksi, tetapi bagaimana kita menyajikan “cerita” di balik benda-benda tersebut agar lebih bermakna. Kita ingin museum ini relevan dengan zaman,” demikian Ahyani menegaskan.
Namun di balik riuh festival, terselip kecemasan yang tak bisa disembunyikan. Ahyani mengungkapkan bahwa beberapa bagian bangunan telah bocor, mengancam koleksi yang telah dijaga puluhan tahun.
Pemerintah pun berjanji: tahun depan, perbaikan akan dimulai— bertahap, hati-hati, penuh perhatian. Agar museum ini kembali layak, aman, dan terus menjadi rumah bagi cerita-cerita tua.
“Mudahan tahun depan bisa direhab,” kata Ahyani disela peninjauan Museum Kayu Tuah Himba usai pembukaan pameran.
Sebab Museum Kayu Tuah Himba, sebagaimana museum lainnya, adalah jantung identitas masyarakatnya. Dan identitas, seperti kayu tua, harus dirawat agar tak rapuh dimakan waktu. (*)









