Anak 13 Tahun di Kutai Lama Anggana Ditemukan Meninggal di Sungai Mahakam Diduga Jadi Korban Serangan Buaya
Kukar, Sekaltim.co – Seorang anak laki-laki bernama Muhammad Abidzhar Junior (13) tenggelam diduga akibat serangan buaya. Bocah warga RT 02, Desa Kutai Lama, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) Kalimantan Timur (Kaltim), ini ditemukan meninggal dunia setelah dua hari pencarian intensif, Senin 30 Maret 2026 malam.
Korban ditemukan sekitar pukul 20.00–20.25 WITA dalam kondisi mengapung di aliran sungai. Lokasi penemuan berada sekitar 1 hingga 1,57 kilometer ke arah hilir dari titik awal kejadian. Tubuh korban terbawa arus Sungai Mahakam yang saat itu dalam kondisi surut.
Penemuan jenazah dilakukan oleh keluarga bersama warga yang menyisir sungai secara mandiri. Setelah ditemukan, korban langsung dievakuasi dan dibawa ke rumah duka oleh tim gabungan di lapangan.
Kapos Damkar Anggana, Meiry Sulindra, menyebut terdapat indikasi luka pada tubuh korban. Dugaan sementara, luka tersebut akibat gigitan satwa liar, yang mengarah pada buaya. Namun, kepastian penyebab masih menunggu hasil identifikasi lebih lanjut.
“Berdasarkan pemeriksaan kami saat jasad korban ditemukan ada bekas luka gigitan yang diduga buaya pada bagian badan korban,” ujarnya dalam keterangan.
Meiry sampaikan korban ditemukan setelah pencarian intensif yang melibatkan berbagai unsur.
“Korban ditemukan sekitar 1,5 kilometer ke arah hilir dalam kondisi meninggal dunia,” jelasnya.
Awal peristiwa tragis ini terjadi pada Minggu 29 Maret 2026 sekitar pukul 16.10 WITA. Saat itu, korban berenang bersama teman-temannya di Sungai Mahakam. N
Korban berenang ke tengah sungai untuk mengambil bola yang hanyut terbawa arus. Diduga kelelahan, korban kesulitan kembali ke tepi.
Ia sempat berteriak meminta tolong, namun teriakan tersebut disangka candaan oleh warga sekitar. Tak lama kemudian, korban tenggelam dan terseret arus deras.
Warga yang menyadari kejadian itu langsung melakukan pencarian awal, namun hasilnya nihil. Sejumlah saksi juga mengaku melihat kemunculan buaya di sekitar lokasi, memperkuat dugaan adanya serangan satwa liar.
Tim SAR gabungan kemudian turun tangan. Unsur yang terlibat meliputi Pos SAR Samarinda, Damkar, BPBD, Satpolair, relawan, hingga masyarakat setempat. Namun, proses pencarian terkendala arus deras dan ancaman buaya.
“Kondisi arus cukup kuat, ditambah kemunculan buaya, sehingga tim tidak melakukan penyelaman,” tambah Meiry.
Setelah korban ditemukan, tim SAR gabungan menggelar briefing sekitar pukul 21.00 WITA. Operasi pencarian resmi ditutup dan seluruh personel dikembalikan ke satuannya masing-masing.
Peristiwa anak meninggal di Sungai Mahakam Anggana diduga akibat serangan buaya membuat pihak terkait mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi anak-anak yang beraktivitas di sekitar sungai. Karakteristik arus Sungai Mahakam yang kuat serta keberadaan satwa liar menjadi ancaman nyata. “Pengawasan orang tua sangat penting. Jangan biarkan anak bermain di sungai tanpa pengawasan,” tegasnya. (*)









