Pemprov Kaltim

Desa di Samboja Kaltim Andalkan Biogas di Tengah Isu Krisis Energi

Sekaltim.co – Satu desa di Kalimantan Timur (Kaltim) selangkah lebih maju mengembangkan biogas di tengah isu kelangkaan energi global. Namanya Desa Beringin Agung, Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara (Kukar).

Desa Beringin Agung di Samboja Kaltim telah mampu mengandalkan biogas sebagai sumber energi alternatif yang mandiri dan ramah lingkungan.

Program ini dikelola Kelompok Tani Agro Lestari dan jadi bukti kalau limbah peternakan bisa diubah jadi sesuatu yang bernilai. Dengan kapasitas instalasi mencapai 17 meter kubik, fasilitas biogas di desa ini mampu menampung hingga 20 gerobak kotoran sapi setiap harinya.

Dari situ, energi biogas terbentuk dan bisa dipakai untuk kebutuhan rumah tangga. Mulai dari bahan bakar kompor, penanak nasi, sampai penerangan lampu. Menariknya lagi, energi ini juga bisa dibagikan ke warga lain menggunakan kantong biogas, jadi manfaatnya makin luas.

Tak cuma energi, hasil olahan biogas juga menghasilkan pupuk cair dan pupuk kandang. Ini jelas jadi nilai tambah buat petani karena bisa dimanfaatkan kembali untuk pertanian.

Program ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam mendorong penggunaan energi baru terbarukan. Targetnya, masyarakat desa bisa lebih mandiri secara energi dan tidak bergantung penuh pada sumber energi konvensional.

Kepala Dinas ESDM Kaltim, Bambang Arwanto, menegaskan pentingnya pengelolaan yang berkelanjutan. Menurutnya, fasilitas yang sudah ada harus dimanfaatkan maksimal agar dampaknya bisa dirasakan dalam jangka panjang.

“Pentingnya pengelolaan yang berkelanjutan agar program ini tidak hanya berjalan dalam jangka pendek, tetapi juga memberikan dampak jangka panjang bagi kemandirian energi masyarakat desa,” kata Bambang dalam keterangan tertulis, Jumat 10 April 2026.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Agro Lestari, Zazuli, mengaku program ini sangat membantu warga. Selain memenuhi kebutuhan energi, biogas juga meningkatkan nilai ekonomi dari limbah peternakan.

“Dengan adanya biogas ini, kami tidak hanya mendapatkan energi alternatif, tetapi juga manfaat tambahan berupa pupuk yang bisa digunakan kembali untuk pertanian,” katanya.

Program biogas di Kaltim ini diharapkan bisa jadi role model bagi desa lain di masa depan. Dengan konsep sederhana tapi berdampak besar, energi mandiri berbasis lingkungan bukan lagi sekadar wacana, tapi sudah jadi kenyataan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button