Lindungi Pesut Mahakam, Menteri Hanif Faisol Ingin Tutup Jalur Batubara

Sekaltim.co – Pemerintah pusat melalui Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq menegaskan komitmennya untuk menyelamatkan pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) dari ancaman aktivitas kapal pengangkut batubara yang melintasi wilayah habitatnya.
Hanif menyampaikan keinginannya agar kawasan hidup pesut Mahakam bebas total dari lalu lintas kapal batubara.
“Bukan pembatasan, saya inginnya ditutup saja. Stockpile di situ dialirkan lewat darat ke sungai besar, jadi kita lindungi yang satu ini,” tegas Hanif dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa 28 Oktober 2025.
Ia menjelaskan, aktivitas kapal batubara menjadi salah satu ancaman terbesar bagi keberlangsungan hidup si lumba lumba air tawar ini.
Selain menimbulkan kebisingan, kapal-kapal tersebut juga berpotensi mencemari perairan serta mengganggu ekosistem alami satwa langka itu.
Hanif menegaskan bahwa pihaknya bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan memastikan kapal-kapal batubara tidak lagi melintas di anak sungai Mahakam yang menjadi habitat utama pesut.
Ia juga mengungkapkan, masih ditemukan kapal pengangkut batubara di kawasan hulu Sungai Mahakam, termasuk di Danau Kaskade Mahakam, yang merupakan salah satu lokasi penting keberadaan pesut.
“Kita sedang mendesain bersama teman-teman KKP untuk menghentikan pengangkutan batubara lewat anak sungai,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret, Kementerian Lingkungan Hidup telah menugaskan empat tenaga ahli dari masyarakat lokal untuk fokus melakukan pemantauan populasi pesut Mahakam.
Selain itu, dilakukan verifikasi lapangan terhadap sumber pencemaran yang berpotensi mengancam kelangsungan hidup satwa endemik Kalimantan Timur tersebut.
“Kita sudah meminta kepada tim di lapangan agar berfokus pada hasil nyata. Saya tidak mau tahu bagaimana caranya, tapi indikator keberhasilannya jelas: jumlah populasi pesut harus meningkat,” tegas Hanif.
Hanif juga mengungkapkan, pemerintah tengah menyiapkan pembentukan kawasan konservasi bebas kapal batubara di wilayah perairan Kalimantan sebagai langkah strategis melindungi satwa yang kini terancam punah.
Data terbaru menunjukkan, populasi pesut Mahakam kini hanya tersisa sekitar 64 ekor, termasuk dua di antaranya merupakan kelahiran baru. Kondisi ini menunjukkan status pesut Mahakam semakin kritis dan membutuhkan intervensi segera dari berbagai pihak.
Langkah pemerintah pusat menjaga kelestarian pesut Mahakam ini diharapkan dapat menjadi titik balik penyelamatan sekaligus memperkuat komitmen Indonesia dalam menjaga keanekaragaman hayati dan kelestarian lingkungan perairan Kalimantan Timur. (*)









