Perkara

Video Pesut Mahakam Viral, Mamalia Langka yang Jadi Ikon tapi Terancam Punah di Sungainya Sendiri

Sekaltim.co – Pesut Mahakam berdiri. Diam membisu dan menjadi tugu kebanggaan Kota Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim).

Dua lokasi memajangnya. Simpang Lembuswana dan tengah jalan dekat Jembatan Mahakam.

Namanya sama. Maknanya serupa. Namun bentuknya berbeda.

Di kota, pesut dipahat megah. Di sungai, pesut kian punah.

Belum lama ini, publik dikejutkan sebuah video viral. Tayangannya pendek namun dampaknya panjang.

Dalam video yang beredar Senin 12 Januari 2026 itu, terlihat seorang perempuan dewasa berjoget dan berinteraksi langsung dengan seekor pesut Mahakam. Video diunggah melalui akun TikTok bernama warningsih28. Kini, video tersebut telah dihapus.

Lokasi pengambilan belum pasti namun dampaknya nyata. Aparat dan pihak terkait bergerak menelusuri untuk mengidentifikasi sosok dalam video dan mengurai kronologi kejadian.

Interaksi manusia dengan pesut bukan hiburan. Bukan konten. Bukan pula tontonan.

Pesut Mahakam adalah satwa langka. Mamalia air tawar endemik Kalimantan Timur. Nama ilmiahnya Orcaella brevirostris.

Kepalanya bulat tanpa moncong. Tubuhnya abu-abu lembut. Sirip punggung kecil dan tumpul.

Ia keluarga lumba-lumba. Namun hidup sepenuhnya di sungai air tawar.

Kini, kondisinya sangat memprihatinkan. Data KLHK per Juli 2025 mencatat hanya 62 ekor tersisa di Sungai Mahakam. Angka yang kecil sementara ancamannya besar.

Yayasan Konservasi RASI melaporkan, tingkat kelahiran pesut terus menurun. Hanya enam bayi pesut tercatat lahir. Sementara kematian terus berjalan.

Hampir 70 persen kematian disebabkan rusaknya habitat sungai. Pencemaran limbah tambang batubara atau jaring nelayan menjadi ancaman, juga lalu lintas kapal serta bom ikan ilegal.

Pesut pun terdesak. Tak punya ruang. Tak punya aman.

Pesut Mahakam kini berstatus Critically Endangered versi IUCN. Pesut Mahakam juga masuk Appendiks I CITES. Perdagangannya dilarang total kecuali untuk penelitian ilmiah.

Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan kondisi ini darurat. “Angka ini bukan sekadar data statistik, tetapi indikator kuat degradasi ekosistem,” ujarnya belum lama ini.

Pesut tak hanya hidup di Mahakam. Ia juga ditemukan di Delta Kayan–Sembakung, Kalimantan Utara. Wilayah mangrove yang masih sehat. Masyarakat hidup berdampingan tanpa perburuan.

Temuan ini menunjukkan satu hal. Pesut bisa bertahan. Jika sungai dijaga.

Namun di Mahakam, tekanan terus datang. Aktivitas industri, transportasi air, dan eksploitasi datang tanpa henti.

Pesut seakan berbisik. Meminta tolong. Ingin tetap tinggal. Ingin berkembang biak. Ingin kembali menyemburkan air ke permukaan.

Jika pesut hilang, ia tak kembali. Jika sungai rusak, hidup ikut lenyap.

Menjaga pesut berarti menjaga Mahakam. Menjaga Mahakam berarti menjaga masa depan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Sekaltim.co Ads

Silakan izinkan iklan jika memungkinkan. Dengan menonton iklan, Anda turut mendukung Sekaltim.co agar bisa terus menghadirkan konten gratis sebagai bagian dari komitmen kami merawat aspirasi dan memperkaya literasi. Terima kasih atas dukungan Anda!