Nusantara

Menteri Kebudayaan Luncurkan Buku Penulisan Ulang Sejarah Indonesia 10 Jilid

Sekaltim.co – Menteri Kebudayaan Fadli Zon secara resmi meluncurkan buku penulisan ulang sejarah Republik Indonesia berjudul “Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global”. Peluncuran ini menjadi bagian dari upaya pembaruan narasi sejarah nasional agar lebih relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan riset terkini.

Buku sejarah terbaru ini disusun oleh 123 sejarawan dari 34 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Fadli menegaskan, pemerintah tidak ikut campur dalam isi penulisan. Kementerian Kebudayaan hanya berperan sebagai fasilitator, sementara keseluruhan proses akademik dilakukan oleh para ahli sejarah.

“Jadi ini ditulis oleh ahlinya, sejawawan Indonesia. 123 sejarawan dari 34 perguruan tinggi Indonesia. Jadi ini bukan ditulis oleh saya,” kata Fadli Zon dalam sambutannya yang disiarkan melalui kanal YouTube Kementerian Kebudayaan, Minggu, 14 Desember 2025.

Buku Sejarah Indonesia terdiri dari 10 jilid dengan total 7.958 halaman, yang menggambarkan perjalanan bangsa Indonesia dari masa awal peradaban Nusantara hingga era Reformasi dan konsolidasi demokrasi tahun 1998–2024. Fadli mengakui, karya tersebut belum sepenuhnya sempurna karena mustahil merangkum seluruh aspek sejarah Indonesia secara menyeluruh.

Secara rinci, jilid 1 hingga 3 membahas awal peradaban masyarakat Nusantara serta interaksinya dengan India, Tiongkok, Persia, dan Timur Tengah. Jilid 4 mengulas perjumpaan awal dengan bangsa Barat, jilid 5 tentang terbentuknya negara kolonial, dan jilid 6 membahas pergerakan kebangsaan.

Sementara itu, jilid 7 mengangkat perjuangan mempertahankan kemerdekaan, jilid 8 membahas konsolidasi negara bangsa dan kepemimpinan nasional, jilid 9 mengulas pembangunan serta stabilitas era Orde Baru, dan jilid 10 membahas Reformasi hingga 2024.

“Jilid 9 membahas pembangunan dan stabilitas era Orde Baru. Jilid 10 dari Reformasi dan konsolidasi demokrasi 1998 sampai 2024,” kata Fadli.

Terkait polemik dan penolakan dari sebagian masyarakat, Fadli menilai perbedaan pendapat sebagai hal wajar dalam negara demokrasi. Menurutnya, proyek ini bertujuan merawat memori kolektif bangsa dan memperkuat pemahaman sejarah nasional.

Pihaknya terbuka terhadap masukan. Sejarah harus ditulis secara objektif dan terus dikaji.

“Kami undang sejarawan untuk beri masukan. Di luar tim, kami harapkan ada masukan lain,” ujarnya.

Peluncuran buku ini juga bertepatan dengan penetapan 14 Desember sebagai Hari Sejarah, sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Kebudayaan (Kepmenbud) Nomor 206/M/2025. Penetapan tersebut dideklarasikan bersamaan dengan soft launching buku di Gedung A Kementerian Kebudayaan.

Dalam peluncuran Buku Sejarah Indonesia tersebut, turut Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian. Hetifah menekankan pentingnya transparansi dan keterlibatan publik dalam penyusunan sejarah nasional. Menurutnya, sejarah bukan sekadar kajian akademik, tetapi fondasi memori kolektif bangsa. “Ini bukan sekadar penulisan akademis, ini membentuk memori kolektif bangsa,” ucapnya. Ia juga menyoroti integrasi temuan arkeologis terbaru yang menunjukkan peradaban Indonesia jauh lebih tua dari narasi sebelumnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Sekaltim.co Ads

Silakan izinkan iklan jika memungkinkan. Dengan menonton iklan, Anda turut mendukung Sekaltim.co agar bisa terus menghadirkan konten gratis sebagai bagian dari komitmen kami merawat aspirasi dan memperkaya literasi. Terima kasih atas dukungan Anda!