Rumah Putin Jadi Sasaran Drone, Rusia–Ukraina di Ambang Eskalasi Baru
Sekaltim.co – Serangan drone dilaporkan menyasar salah satu rumah tinggal resmi Presiden Rusia Vladimir Putin di kawasan Valdai, wilayah Novgorod, barat Moskow. Serangan ini menambah ketegangan perang Ukraina–Rusia yang memuncak menjelang akhir tahun.
Moskow mengklaim berhasil menggagalkan serangan besar-besaran berupa 91 drone jarak jauh yang diduga menargetkan rumah Putin itu.
Bagi Kremlin, serangan ini bukan sekadar ancaman keamanan biasa. Lokasi tersebut disebut bukan hanya rumah peristirahatan presiden, melainkan juga pusat komunikasi strategis yang berkaitan dengan sistem pertahanan nasional Rusia, termasuk jaringan kendali senjata nuklir. Klaim itu membuat dunia internasional menahan napas, khawatir konflik meluas ke level global.
Pakar militer Rusia, Alexey Leonkov, menilai operasi kompleks dengan puluhan drone mustahil dilakukan Ukraina seorang diri. Ia menduga keterlibatan kelompok garis keras Eropa, khususnya Inggris, sebagai bentuk provokasi tingkat tinggi. Menurutnya, waktu serangan yang bertepatan dengan kunjungan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky ke Amerika Serikat untuk bertemu Donald Trump bukan kebetulan.
“Ini bisa menjadi upaya memberi alibi politik bagi Zelensky, sekaligus manuver faksi pro-perang Eropa untuk mengacaukan rencana perundingan damai antara Rusia dan AS,” ujar Leonkov dalam analisanya.
Namun, Kremlin enggan membeberkan bukti visual terkait serangan tersebut. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan semua drone berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Rusia. “Serangan sebesar itu tak perlu dibuktikan dengan gambar. Fakta bahwa semuanya berhasil dihancurkan sudah cukup,” katanya, dikutip dari AFP, Selasa 30 Desember 2025.
Isu keamanan pribadi Putin pun kembali mencuat. Sejak invasi Rusia ke Ukraina, beredar spekulasi bahwa keluarga Putin telah dipindahkan ke bunker anti-nuklir superaman. Mantan akademisi Rusia Valery Solovey bahkan menyebut bunker mewah itu berada di Pegunungan Altai, Siberia—lengkap dengan teknologi canggih dan perlindungan tingkat tinggi.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengaku marah setelah mendapat kabar langsung dari Putin melalui sambungan telepon. “Menyerang itu satu hal. Menyerang rumahnya itu hal lain. Ini bukan waktu yang tepat,” ujar Trump, dikutip Reuters. Meski begitu, ia tetap optimistis peluang kesepakatan damai masih terbuka.
Ukraina sendiri membantah keras tudingan Moskow, menyebut klaim tersebut tidak berdasar dan justru berpotensi merusak proses negosiasi. Sementara Rusia menegaskan akan melakukan pembalasan terukur—dengan target dan waktu yang sudah ditentukan—tanpa memutus jalur diplomasi dengan Amerika Serikat.
Satu malam penuh drone di rumah Putin di Novgorod telah kembali mengguncang keseimbangan dunia. Ini terjadi di tengah perang yang belum menemukan ujung. (*)



