Tugu Pesut Mahakam Diperdebatkan, Dari Desa hingga Ikon Miliaran
Sekaltim.co – Jagat media sosial ramai membahas isu ikon tugu Pesut Mahakam di Samarinda dan di Kukar. Bukan soal bentuk, melainkan soal angka anggaran yang bikin publik bertanya-tanya.
Perdebatan tentang tugu pesut Mahakam ini terjadi di tengah kabar baik soal konservasi Upaya penyelamatan Pesut Mahakam di Kutai Kartanegara (Kukar) yang kini makin serius dan tak lagi sekadar wacana.
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) resmi menetapkan Desa Muhuram di Kecamatan Kota Bangun dan Desa Sabintulung di Kecamatan Muara Kaman sebagai Desa Konservasi Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) atau Mahakam Dolphin. Dua desa ini menyusul Desa Pela yang lebih dulu dikenal sebagai rumah sang mamalia endemik Sungai Mahakam.
Sementara dua ikon tugu pesut di Kalimantan Timur (Kaltim) jadi perbandingan kontras. Di Muara Muntai, ikon pesut dibangun super sederhana dengan biaya hanya sekitar Rp350 ribu. Lokasinya pun bersahaja, berdiri di depan Masjid Besar Asy-Syakirin.
Sebaliknya, di Kota Samarinda, tugu Pesut Mahakam yang berdiri megah di simpang Mal Lembuswana disebut menghabiskan anggaran sekitar Rp1,1 miliar dari APBD. Perbedaan ini pun memicu kritik dan perdebatan publik.
Menanggapi sorotan tersebut, Kepala Desa Muara Muntai Ulu, Husain Ahmad, angkat bicara. Ia menegaskan bahwa pembangunan ikon pesut di wilayahnya tidak menggunakan anggaran dana desa khusus.
Material yang dipakai merupakan sisa bahan pembangunan pelantaran masjid yang masih layak digunakan.
“Untuk pembuatan ikon pesut ini tidak memakai anggaran dana khusus, melainkan memanfaatkan bahan-bahan bekas dari sisa pembangunan pelantaran Masjid Besar Asysyakirin,” ujar Husain Ahmad.
Ia merinci, bahan seperti semen, pasir, kawat, hingga cat dekorasi berasal dari material sisa. Satu-satunya pengeluaran baru hanyalah mesin pompa air atau sanyo senilai sekitar Rp350 ribu.
Di balik ikon sederhana itu, tersimpan kisah kreativitas. Ikon pesut Muara Muntai merupakan karya Joko Saptono, seorang seniman asal Trenggalek, Jawa Timur.
Karya tersebut lahir dari inisiatif pribadi tanpa menyentuh APBD sedikit pun. Bahkan, dana pembelian pompa air disebut dikeluarkan langsung oleh Kepala Desa dari kantong pribadinya.
Semangat swadaya ini menuai apresiasi. Pemerintah Desa Muara Muntai Ulu memberikan piagam penghargaan dan bingkisan kepada Joko Saptono sebagai bentuk terima kasih atas dedikasi dan sumbangsihnya mempercantik wajah desa.
“Insyaa Allah, ke depan kami akan terus menjalin komunikasi dengan beliau. Rencana kami membangun monumen ikon Muara Muntai yang lebih menarik dan permanen agar wilayah ini punya daya tarik kuat bagi wisatawan,” kata Husain Ahmad.
Di tengah isu tugu pesut Mahakam seharga miliaran dan ikon hemat biaya, pesan utamanya tetap sama: pesut harus diselamatkan. Desa konservasi bicara soal ekosistem, ikon bicara soal simbol. Keduanya akan bermakna jika berujung pada satu tujuan—menjaga Pesut Mahakam tetap hidup, bukan hanya jadi patung. (*)









