Viral Ketua BEM UGM Diteror Usai Kritik MBG dan Kasus Siswa SD Ngada
Sekaltim.co – Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, mengaku mendapat teror serius usai lantang menyuarakan tragedi kematian seorang siswa SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Teror tersebut bukan sekadar ancaman kosong, melainkan disertai penguntitan dan dugaan pemantauan langsung oleh orang tak dikenal.
Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto mengungkapkan, ancaman penculikan diterimanya melalui pesan singkat dari nomor tak dikenal dalam rentang waktu 9–11 Februari 2026. Tak berhenti di situ, ia juga merasa dikuntit dan dipotret dari kejauhan oleh dua pria dewasa bertubuh tegap yang belum dikenalnya.
“Yang menguntit dan memotret dari jauh dua orang laki-laki dewasa. Tubuhnya tegap dan masih relatif muda,” ujar Tiyo, Jumat 13 Februari 2026.
Meski diteror, Tiyo menegaskan dirinya dan BEM UGM tidak akan mundur. Bagi mereka, bersuara adalah kewajiban moral, bukan pilihan yang bisa dibungkam dengan intimidasi. “Kami tidak takut. Suara mahasiswa tidak bisa dimatikan,” tegasnya.
Sebelumnya, BEM UGM mengirimkan surat resmi kepada UNICEF, badan PBB yang menangani perlindungan anak. Surat tersebut berisi kritik keras terhadap kegagalan negara melindungi hak dasar anak, menyusul kasus siswa SD berusia 10 tahun di Ngada yang bunuh diri karena tidak mampu membeli alat tulis sekolah.
Dalam surat itu, Tiyo menyebut tragedi tersebut meruntuhkan seluruh klaim keberhasilan statistik pemerintah yang kerap dipamerkan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai negara gagal menentukan prioritas kemanusiaan, sementara anggaran pendidikan justru tersedot ke kebijakan populis.
Tiyo menyatakan dalam surat itu sebuah pesan kepada UNICEF, “Help us to tell Prabowo how stupid he is as a president (Bantu kami beri tahu Prabowo Subianto betapa bodohnya dia sebagai presiden).”
Sorotan tajam juga disampaikan Tiyo dalam aksi di Bundaran UGM, Kamis 13 Februari 2026. Dalam orasinya yang viral, ia mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menyebutnya sebagai “Maling Berkedok Gizi”. Menurutnya, terdapat ironi besar ketika triliunan rupiah digelontorkan untuk program populis, sementara seorang anak harus kehilangan nyawa hanya karena tak sanggup membeli pulpen dan buku.
Pernyataan itu kian viral setelah Tiyo menyebut kalimat kontroversial dalam pidatonya, yang langsung memicu perdebatan luas di media sosial. Sebagian publik mendukung keberanian mahasiswa mengawasi kekuasaan, sementara sebagian lain mengecam pilihan diksi yang dinilai terlalu keras.
BEM UGM juga menyoroti potensi korupsi dan minimnya transparansi dalam pelaksanaan MBG, termasuk dugaan keuntungan besar bagi pengelola SPPG. Mereka meminta UNICEF turut menyampaikan pesan keras kepada Presiden agar negara kembali berpihak pada anak-anak dan pendidikan, bukan sekadar proyek pencitraan.
Di tengah teror dan tekanan terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, tragedi kemanusiaan tak boleh dilupakan, dan suara mahasiswa tak akan berhenti diancam rasa takut. (*)



