Yamisa Zebua Berbincang dengan Presiden Prabowo saat Peresmian Jembatan
Sekaltim.co – Nama Yamisa Zebua mencuat saat Presiden Prabowo Subianto berbincang secara daring usai peresmian jembatan bersama perwakilan daerah di Aceh dan Sumatera, Senin 9 Maret 2026, sore. Di Nias Selatan, cerita lama yang tak pernah selesai tentang jalan sekolah yang harus ditempuh dengan kaki basah, tentang arus sungai yang kadang bersahabat namun sering pula mengancam.
Yamisa Zebua dalam percakapan daring bersama Presiden live di kanal Youtube Sekretariat Presiden menampakkan kembali video sederhana yang memunculkan namanya.
Sebelumnya Presiden Prabowo Subianto meresmikan 218 jembatan yang dibangun pemerintah melalui jajaran TNI AD hanya dalam waktu sekitar 2,5 bulan. Peresmian itu bukan sekadar seremoni pembangunan infrastruktur. Tersimpan kisah seorang siswi yang menjadi jawaban atas pertanyaan mengapa jembatan harus ada dan mengapa negara tak boleh terlambat hadir.
Bukankah cerita itu berawal dari video?
Beberapa bulan lalu, video siswa-siswi berseragam pramuka menyeberangi sungai deras di Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, viral di media sosial. Dalam video itu, terdengar suara memohon. Sebuah kalimat yang sederhana, namun mengguncang kesadaran publik:
“Pak Prabowo, bangunlah jembatan kami ini.”
Salah satu siswi dalam cerita itu adalah Yamisa Zebua, pelajar SMKN 1 Boronadu. Usianya baru 17 tahun. Namun keberaniannya menyampaikan kondisi daerahnya membuat namanya sampai ke Istana.
Dan ketika Presiden akhirnya meresmikan ratusan jembatan di berbagai daerah, Yamisa dihadirkan dalam percakapan daring.
Presiden bahkan sempat tersenyum ketika mendengar nama belakang sang siswi. “Saya banyak anak buah yang namanya Zebua,” kata Prabowo. “Ada yang jenderal juga.”
Sebuah percakapan ringan, namun sarat makna. Bukankah itu tanda bahwa suara dari desa bisa sampai ke pusat kekuasaan?
Pembangunan jembatan tersebut dikoordinasikan Satgas TNI AD yang dipimpin KSAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak. Dalam proyek percepatan ini, pemerintah membangun berbagai tipe jembatan, mulai dari 59 jembatan Bailey, 82 jembatan Armco, hingga 77 jembatan perintis atau gantung yang tersebar di berbagai wilayah.
Tujuannya sederhana namun mendasar: memastikan masyarakat tidak lagi terisolasi.
Presiden menegaskan, tidak boleh ada lagi anak sekolah yang harus menyeberangi sungai dengan tubuh basah. Tidak boleh ada lagi petani yang kesulitan membawa hasil panen. Tidak boleh pula pedagang kecil mempertaruhkan keselamatan hanya untuk mencapai pasar.
Namun pertemuan dengan Yamisa tak berhenti pada cerita jembatan.
Siswi kelas 12 itu juga mengungkapkan mimpinya: ingin kuliah kedokteran. Sebuah mimpi yang terdengar besar, mungkin terlalu besar bagi sebagian orang di desa terpencil. Tapi bukankah mimpi selalu dimulai dari keberanian untuk menyebutkannya?
Presiden pun merespons dengan membuka peluang bagi Yamisa mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Ia bahkan meminta prajurit di lapangan mencatat nama Yamisa dan beberapa temannya yang memiliki cita-cita serupa.
Menariknya, di akhir percakapan, Yamisa juga meminta program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk sekolahnya. Sekolahnya belum menerima program MBG hingga kini tak seperti daerah lain di Indonesia. Sebuah permintaan yang menunjukkan bahwa persoalan pendidikan di daerah bukan hanya soal jalan atau jembatan.
Lalu pertanyaannya kini menggantung di udara: apakah jembatan yang telah dibangun itu cukup untuk menghubungkan masa depan anak-anak desa dengan peluang yang lebih luas?
Kisah Yamisa Zebua baru saja membuka babak baru—bahwa satu suara kecil dari pinggir negeri ternyata mampu mengetuk pintu negara. (*)









