Warga Kaltim Sholat Istisqa Memohon Hujan Turun di Tengah Kemarau Panjang Agustus 2026
Sekaltim.co – Warga Kalimantan Timur (Kaltim) menggelar Sholat Istisqa, Jumat, 21 Agustus 2026, di Masjid Nurul Mu’minin, Samarinda.
Sholat Istisqa warga Kaltim ini menjadi pilihan upaya dalam mengatasi musim kemarau dan kekeringan yang melanda Agustus 2026.
Langit Kaltim terasa makin kering pada musim kemarau Agustus 2026. Hujan yang biasanya datang bergantian kini terasa begitu jauh.
Sungai Mahakam ikut memberi tanda. Permukaan airnya terus surut. Sejumlah lahan mengering. Di beberapa titik, api bahkan mulai melahap semak, pepohonan, dan lahan terbuka.
Di tengah situasi itulah sebagian warga Kaltim menundukkan kepala dan berdoa. Warga memohon satu hal yang sederhana, tetapi sangat penting: hujan.
Mereka menadahkan tangan. Sebagian menundukkan kepala dengan khusyuk. Doa kepada Yang Maha Kuasa mengalir di tengah kondisi alam yang semakin kering.
Sholat Istisqa tersebut digelar Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) bersama warga sebagai ikhtiar batin menghadapi musim kemarau panjang.
“Di tengah musim kemarau panjang yang berdampak pada kekeringan dan krisis air bersih, Pemprov Kaltim bersama masyarakat melaksanakan Shalat Istisqa sebagai ikhtiar batin dan bentuk permohonan ampun kepada Allah SWT,” tulis Pemprov Kaltim melalui akun Instagram resminya, Jumat, 21 Agustus 2026.
Harapannya jelas. Hujan segera turun. Kebutuhan air masyarakat kembali tercukupi. Alam mendapat kesempatan untuk bernapas.
Kemarau Kaltim Mulai Terasa di Banyak Sisi
Kemarau 2026 bukan sekadar soal panas yang bikin gerah. Dampaknya mulai masuk ke banyak sisi kehidupan.
Data yang dihimpun dari laporan Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) menunjukkan sejumlah wilayah Kaltim mengalami hari tanpa hujan hingga belasan hari. Di beberapa daerah, hari tanpa hujan mencapai 18 hari. Samarinda juga mengalami periode kering lebih dari 10 hari.
Kondisi ini membuat lahan pertanian ikut mengalami tekanan dan ancaman kekeringan.
Sekitar 900 hektare lahan pertanian di Kaltim dilaporkan mengalami kesulitan air. Sebanyak 25 hektare di antaranya terindikasi mengalami puso atau gagal panen.
Lahan tadah hujan menjadi kelompok yang paling rentan.
Pemprov Kaltim kemudian menyalurkan lebih dari 300 unit pompa air kepada kelompok tani. Pompa tersebut menjadi salah satu langkah darurat untuk menjaga pasokan air bagi tanaman.
Ancaman kekeringan juga menyentuh kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Penurunan debit air membuat pemerintah harus menyiapkan langkah antisipasi, termasuk pompa portabel dan rencana operasi modifikasi cuaca.
Sungai Mahakam Surut Jadi Tanda Alam
Mahakam punya posisi penting bagi kehidupan masyarakat Kaltim. Namun, sungai terpanjang di provinsi ini juga sedang tidak baik-baik saja.
Debit air di sejumlah bagian hulu menurun drastis. Kondisi itu membuat alur sungai semakin dangkal.
Pelayaran dari Samarinda menuju Mahakam Ulu dan Kutai Barat sempat terhenti sekitar dua pekan. Kapal tidak bisa bergerak normal karena risiko kandas semakin tinggi.
Aktivitas bongkar muat di Dermaga Sungai Kunjang bahkan turun hingga sekitar 75 persen.
Dampaknya paling terasa di wilayah hulu.
Sekitar 4.000 warga di Long Apari, Mahakam Ulu, menghadapi persoalan air bersih dan logistik. Akses darat juga tidak mudah. Kerusakan jalan, longsor, dan jembatan putus membuat distribusi kebutuhan pokok semakin berat.
Harga sejumlah kebutuhan ikut naik.
Beras 25 kilogram dilaporkan mencapai Rp750 ribu hingga Rp1 juta. Elpiji 3 kilogram mencapai sekitar Rp300 ribu.
Di sisi lain, surutnya Mahakam juga mengancam ketersediaan pasokan air dan ekosistem. Populasi pesut Mahakam yang diperkirakan tersisa sekitar 65 ekor ikut menghadapi risiko ketika bagian sungai semakin dangkal. Pemprov Kaltim pun telah mengirim bantuan pangan.
Karhutla Makin Mudah Menyebar
Tanah kering dan angin kencang menciptakan kondisi ideal bagi api.
Karhutla pun muncul di sejumlah titik Kaltim.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim mencatat pada 14 Agustus, kebakaran terjadi di kawasan Sempaja Utara, Samarinda Utara. Luas lahan terbakar sekitar 1,5 hektare.
Sehari kemudian, api membakar sekitar 4,5 hektare semak belukar di Lempake. Pada malam harinya, sekitar 5 hektare lahan di Bukit Pinang ikut terbakar.
Pada 16 Agustus, kebakaran lebih luas terjadi di sekitar ruas Tol Samarinda-Balikpapan Km 54–57, Kutai Kartanegara. Luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 10 hektare.
BPBD Kaltim terus mengerahkan tim gabungan untuk memadamkan api.
Data BPBD per 19 Agustus mencatat ratusan kejadian karhutla dengan luas area terbakar yang signifikan. Kutai Barat mencatat luas terbakar terbesar, sedangkan Paser mencatat jumlah titik kejadian terbanyak.
Angka tersebut menunjukkan satu pesan penting: kondisi lahan sedang sangat rentan.
“BPBD Provinsi Kalimantan Timur terus memperketat pemantauan dan koordinasi dengan posko-posko di daerah. Mengingat kondisi cuaca yang kering serta tiupan angin kencang yang dapat mempercepat penyebaran api, masyarakat diimbau keras untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar,” demikian tulis BPBD Kaltim, 18 Agustus 2026.
Jangan Tambah Masalah dengan Membakar Lahan
Pemerintah juga memperketat larangan pembukaan lahan menggunakan api.
Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH Nomor 16 Tahun 2026 menegaskan larangan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar.
Langkah itu penting untuk mencegah kebakaran semakin meluas. Apalagi kondisi kering dapat membuat api bergerak cepat.
Warga diminta tidak membakar sampah atau lahan sembarangan. Puntung rokok juga harus dipastikan benar-benar padam sebelum dibuang.
Jika menemukan asap atau titik api, masyarakat diminta segera melapor kepada petugas.
Karhutla bukan cuma urusan hutan.
Asapnya bisa masuk ke permukiman. Kualitas udara bisa turun. Aktivitas warga bisa terganggu. Lingkungan ikut rusak.
Karena itu, perjuangan petugas BPBD dan tim gabungan layak mendapat apresiasi. Mereka masuk ke area sulit. Mereka melawan panas dan asap. Mereka terus bekerja ketika api belum sepenuhnya padam.
Sementara warga kini menunggu satu kabar baik dari langit.
Hujan.
Sholat Istisqa menjadi simbol harapan di tengah kemarau. Namun ikhtiar tidak berhenti pada doa.
Menjaga air, tidak membakar lahan, dan melindungi lingkungan juga menjadi tanggung jawab bersama.
Kaltim sedang menghadapi tiga tekanan sekaligus: kekeringan, surutnya Mahakam, dan ancaman karhutla.
Warga Kaltim berharap satu kemudahan dengan Sholat Istisqa Agustus 2026 ini: semoga hujan segera turun di Kaltim dan wilayah yang mengalami ujian serupa. Bukan sekadar untuk membasahi tanah, tetapi juga untuk mengembalikan rasa aman warga yang selama berminggu-minggu hidup di tengah panas, debu, asap, dan kekhawatiran. (*)





