Penyu Hijau Mati di Pantai Balikukup Berau, Petugas Buru Pelaku Perburuan
Sekaltim.co – Perburuan penyu kembali menghantui pesisir Berau Kalimantan Timur (Kaltim). Warga menemukan seekor penyu hijau betina dalam kondisi mati saat musim bertelur di Pantai Balikukup.
Penyu hijau dengan nama ilmiah Chelonia mydas itu ditemukan dalam kondisi mengenaskan di area pantai Berau. Bagian tubuhnya mengalami luka dan seluruh telur yang dibawanya telah hilang.
Temuan tersebut terjadi di kawasan pesisir RT 3, Desa Balikukup, Kecamatan Biduk-Biduk, Minggu, 2 Agustus 2026.
Sekretaris Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Lestari Balikukup, Suryadi, menemukan bangkai penyu sekitar pukul 06.00 Wita. Saat itu, ia sedang melakukan patroli rutin bersama anaknya.
“Telah terjadi penyu naik bertelur diduga disesar warga bekasnya naik dihapus, untuk menghilangkan jejak. Kami patroli jam 6 wt pagi tg 2 Agustus 2026,” ungkap Suryadi.
Penyu Dibunuh untuk Diambil Telurnya
Suryadi melihat jejak penyu yang mengarah ke pantai. Namun, jejak tersebut justru berakhir pada bangkai penyu.
Setelah diperiksa, seluruh telur sudah tidak ada. Pokmaswas menduga penyu tersebut dibunuh untuk mengambil telurnya.
Pelaku juga diduga berusaha menghilangkan jejak. Temuan ini kemudian didokumentasikan sebelum warga dan anggota Pokmaswas mengevakuasi bangkai penyu untuk dikuburkan di sekitar lokasi.
Identitas pelaku hingga kini belum diketahui.
Kepala UPTD KKP3K-KDPS Berau, Didik Riyanto, menyayangkan kejadian tersebut. Menurutnya, penyu merupakan satwa yang dilindungi sekaligus salah satu ikon Kabupaten Berau.
“Kami sangat menyayangkan kejadian ini. Penyu adalah biota laut yang dilindungi sekaligus ikon Kabupaten Berau,” kata Didik, Selasa, 4 Agustus 2026.
Musim Bertelur Penyu Jadi Perhatian
Kasus tersebut terjadi saat Balikukup memasuki puncak musim peneluran penyu. Periode ini berlangsung sekitar Agustus hingga November.
Dalam satu kali bertelur, seekor penyu dapat menghasilkan sekitar 80 hingga 100 telur. Dalam kondisi tertentu, hingga lima penyu bisa naik ke pantai dalam satu malam.
Kondisi tersebut membuat pengawasan menjadi semakin penting. Penyu yang naik ke pantai justru rentan menjadi sasaran perburuan.
UPTD KKP3K-KDPS Berau kemudian menggelar rapat koordinasi pada Senin, 3 Agustus 2026. Pertemuan melibatkan Stasiun PSDKP Tarakan Wilker Berau, Wilker Derawan, PSDKP Provinsi Kaltim, serta lembaga konservasi Global Conservation.
Didik memastikan tim akan turun ke Balikukup untuk menyelidiki kasus tersebut.
“Kami akan menyelidiki kasus ini untuk menemukan pelaku. Dalam waktu dekat, tim akan diturunkan ke Balikukup,” ujarnya.
Penyu hijau sendiri termasuk di Berau Kaltim berstatus Endangered atau terancam punah menurut IUCN. Perburuan telur dan kerusakan habitat pesisir menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan populasinya. (*)



