Erau Adat Kutai Kartanegara 2026: Manunggal Raja Bersama Rakyatnya
Sekaltim.co – Pembukaan Erau Adat Kutai 2026 resmi berlangsung di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim). Festival budaya tahunan ini berlangsung sekitar 20–27 September 2026 dengan penutupan prosesi merebahkan Pinang/Tiang Ayu pada 28 September bertepatan HUT Kota Tenggarong. Tema yang diusung adalah “Manunggal Raja Bersama Rakyatnya, Raja Menjamu Rakyatnya”. Tema ini menegaskan bahwa Erau bukan sekadar perhelatan kesultanan, melainkan pesta yang menyatukan raja/sultan dengan rakyatnya.
“Siapa-siapa yang ada di tanah Kutai dan teluk rantaunya, minum air dan diam berusaha dalam daerahnya, tiada menjunjung akannya hukum ini akan disumpah oleh tanah Kutai serta dengan adatnya,” kata Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI di hadapan ribuan rakyat yang memadati Rondong Demang menandai dimulainya Erau Adat Kutai 2026.
Asal-Usul dan Sejarah Singkat Erau
Beberapa literatur menyatakan kata “Erau” berasal dari bahasa Kutai eroh yang berarti ramai, riuh, ribut, dan suasana penuh sukacita. Tradisi ini berakar kuat pada Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Menurut sejarah, Erau pertama kali dilaksanakan pada upacara tijak tanah dan mandi ke tepian ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti masih berusia lima tahun. Setelah dewasa dan dinobatkan sebagai Raja Kutai pertama (sekitar 1300–1325), upacara Erau kembali digelar. Sejak saat itu, Erau menjadi tradisi wajib dalam penobatan setiap sultan serta pemberian gelar kepada tokoh yang berjasa kepada kerajaan.
Pada masa kesultanan, Erau berlangsung 7 hingga 40 hari tergantung kemampuan istana. Rakyat datang dari berbagai pelosok membawa bekal, ternak, buah-buahan, dan kesenian. Sebagai balasan, sultan dan kerabat keraton menjamu rakyat dengan makan bersama sebagai tanda terima kasih atas pengabdian mereka. Tradisi Erau menurut tata cara kesultanan terakhir kali dilaksanakan secara penuh pada 1965. Setelah Kesultanan Kutai Kartanegara berakhir sebagai pemerintahan formal (1960) dan wilayahnya menjadi Kabupaten Kutai, tradisi ini dilestarikan sebagai pesta rakyat. Sejak 1971, atas prakarsa Bupati Drs. H. Achmad Dahlan, Erau digelar secara berkala (awalnya dua tahunan) untuk memperingati hari jadi Kota Tenggarong yang berdiri 29 September 1782. Kini Erau telah menjadi agenda tahunan yang masuk Kalender Event Nusantara (KEN) 2026 Kementerian Pariwisata.
Erau 2026: Pembukaan dan Tema
Pada Minggu, 20 September 2026, prosesi sakral Mendirikan Tiang Ayu (atau Pinang Ayu) digelar di halaman Keraton Mulawarman / Museum Mulawarman, Tenggarong. Tiang yang dihiasi janur, kain kuning, dan umbul-umbul didirikan oleh para pemangku adat sebagai simbol pohon kehidupan, kemakmuran, dan kesuburan. Saat Tiang Ayu berdiri di bumi Tuah Himba, rangkaian inti Erau resmi dimulai.
Prosesi dilanjutkan di Stadion Rondong Demang dengan pembukaan seremonial: pemukulan gong, pembacaan titah, dan penyalaan Api Brong (obor) oleh Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri. Hadir dalam acara tersebut Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin, Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata Wilayah Kalimantan Kementerian Pariwisata Dwi Marhen Yono, jajaran Forkopimda, kerabat kesultanan, tokoh adat, dan budayawan.
Bupati Aulia Rahman Basri menekankan bahwa Erau bukan sekadar pesta adat atau tontonan budaya. “Erau adalah warisan yang hidup, yang diwariskan dari generasi ke generasi, mengajarkan bagaimana menghormati leluhur, setia pada adat, bersatu sesama warga, dan menjaga keseimbangan antara manusia, alam, serta Sang Pencipta,” ujarnya. Kementerian Pariwisata menilai Erau sebagai benteng sekaligus jendela pelestarian warisan leluhur yang memperkuat daya tarik pariwisata daerah. Wisatawan datang ke Indonesia bukan hanya karena alam, tetapi juga kekayaan budayanya.
Rangkaian Kegiatan Utama
Lebih dari 50 agenda adat dan hiburan rakyat meramaikan Erau 2026. Prosesi pra-Erau sudah dimulai sejak pertengahan September, termasuk ritual-ritual sakral di lingkungan kesultanan. Beberapa prosesi penting yang biasanya ada dalam Erau meliputi:
- Beluluh Sultan — ritual penyucian diri sultan menggunakan air dari sejumlah mata air.
- Menjamu Benua dan Merangin — mengundang leluhur dan menjaga keseimbangan alam.
- Bepelas — prosesi malam hari yang berlangsung beberapa malam.
- Beseprah — tradisi makan bersama di sepanjang jalan atau area terbuka, simbol kebersamaan.
- Mengulur Naga — pelarungan sepasang naga (jantan dan betina) di Sungai Mahakam, salah satu prosesi paling ikonik yang dikaitkan dengan legenda Putri Karang Melenu.
- Belimbur — saling menyiram air sebagai simbol pembersihan diri dan kebersamaan, sering menjadi puncak perayaan.
- Merebahkan Tiang/Pinang Ayu — penutup rangkaian, menandai berakhirnya Erau.
Selain ritual sakral yang dikendalikan Kesultanan, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara menggelar kegiatan umum: pembukaan expo dan bazar UMKM di area Stadion Rondong Demang, pertunjukan tari kolosal (termasuk tarian massal pelajar), lomba seni (tari jepen, tingkilan, katsul, lagu daerah), pameran budaya, festival kuliner, serta berbagai hiburan rakyat. Kegiatan ini membuka ruang ekonomi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah setempat.
Makna Budaya dan Nilai yang Terkandung
Setiap prosesi Erau mengandung makna mendalam. Tiang Ayu melambangkan kehidupan dan kemakmuran. Mengulur Naga menghubungkan legenda kerajaan dengan Sungai Mahakam sebagai urat nadi kehidupan. Belimbur mengajarkan kebersamaan dan penyucian. Secara keseluruhan, Erau mengajarkan penghormatan kepada leluhur, kesetiaan pada adat, kebersamaan masyarakat, serta harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
Erau juga menjadi ruang silaturahmi lintas daerah dan bahkan lintas negara. Pada tahun-tahun sebelumnya, festival ini sempat digabungkan dengan Erau International Folklore and Art Festival (EIFAF) yang melibatkan peserta dari berbagai negara. Meski format internasional tidak selalu digelar setiap tahun, semangat diplomasi budaya tetap hidup melalui partisipasi tokoh adat, kepala daerah, dan wisatawan.
Dampak bagi Masyarakat dan Pariwisata
Erau Adat Kutai 2026 masuk daftar Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Status ini meningkatkan atensi nasional dan diharapkan mendorong kualitas penyelenggaraan serta dampak ekonomi yang lebih besar. Bupati Aulia mengundang masyarakat dari pelosok desa hingga kota besar di Nusantara, bahkan wisatawan mancanegara, untuk datang ke Tenggarong — Kota Raja di tepi Sungai Mahakam.
Bagi masyarakat Kutai Kartanegara, Erau adalah identitas. Ia menjadi momen di mana generasi muda mengenal kembali tradisi, pelaku seni menampilkan karya, dan UMKM memasarkan produk. Bagi wisatawan, Erau menawarkan pengalaman autentik: menyaksikan ritual kesultanan yang masih hidup, menikmati tarian dan musik tradisional, mencicipi kuliner lokal, serta merasakan suasana kebersamaan di tepi sungai legendaris.
Menjaga Keberlanjutan
Erau ke-244 (atau perhitungan sejenis) pada 2026 menunjukkan bahwa tradisi yang lahir lebih dari tujuh abad lalu masih relevan. Di tengah modernisasi, Erau berhasil mempertahankan esensi sakral sambil membuka diri pada partisipasi publik dan pengembangan pariwisata. Kerja sama antara Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, dan dukungan Kementerian Pariwisata menjadi kunci keberlangsungan.
Erau Adat Kutai 2026 bukan hanya festival. Ia adalah pernyataan hidup bahwa budaya Kutai tetap bertahan, berkembang, dan menjadi kebanggaan bersama. Tema “Raja Menjamu Rakyatnya” mengingatkan bahwa kekuasaan dan rakyat saling membutuhkan. Ketika Tiang Ayu berdiri dan kemudian direbahkan, yang tersisa adalah pesan: hormati leluhur, jaga adat, bersatu, dan pelihara harmoni dengan alam serta Sang Pencipta. Tenggarong menunggu. Erau menunggu. Mari hadir, menyaksikan, dan merasakan sendiri kebersamaan yang diwariskan lintas generasi. (*)









