Guru Harus Melek AI, Hetifah: Jadikan Teknologi sebagai Mitra, Bukan Ancaman
SEKALTIM.CO- Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan, atau yang biasa dikenal dengan Artificial Intelligence (AI), kini semakin menuntut para pendidik untuk tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki literasi digital yang kuat dan beretika.
Hal tersebut menjadi perhatian utama dalam kegiatan penguatan kapasitas guru bertajuk “Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran: Strategi dan Best Practice untuk Guru”, yang digagas oleh Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian di Samarinda, Rabu (29/10).
Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 100 guru se-Kota Samarinda dan terselenggara berkat kerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI.
Hadir pula sejumlah narasumber dan pejabat pendidikan, antara lain; Thamrin Kasman yang merupakan Widyaprada Ahli Utama Direktorat SMP; Kepala Disdikbud Provinsi Kaltim Armin; Wiwik Setiawati selaku Kepala BGTK Kaltim; ada pula akademisi dan praktisi AI seperti Noris Rahmatullah, Hanif Fakhrurroja, dan Dedi Priansyah.
Pada kesempatan itu, Hetifah menekankan bahwa kemajuan AI seharusnya bisa dimaknai sebagai peluang untuk memperkuat kualitas sistem pendidikan, bukan menggantikan peran manusia. Lebih dari itu, ia berpesan agar menjadikan AI sebagai mitra kerja untuk menumbuhkan kreativitas dan memperkaya proses belajar.
“Manfaatkan AI untuk membuat pembelajaran lebih menyenangkan dan mudah dipahami oleh siswa. Jadikan AI sebagai asisten yang dapat mempermudah tugas kita dengan memberikan ide-ide kreatif,” ujarnya.
Ia juga menyinggung bahwa Indonesia kini termasuk ke dalam salah satu negara yang paling antusias terhadap pemanfaatan AI di dunia. Berdasarkan survei global, Indonesia menempati peringkat keempat dalam adopsi AI dengan 87 persen masyarakat, tercatat telah menggunakannya untuk bekerja, dan 83 persen untuk meningkatkan produktivitas.
Namun, di balik angka itu, politikus senior Partai Golkar ini juga menegaskan perlunya melakukan penguatan literasi digital agar pemanfaatan AI di dunia pendidikan tetap berada di jalur yang benar.
“Indonesia menempati posisi keempat secara global dalam adopsi AI. Sebanyak 87 persen masyarakat Indonesia sudah menggunakan AI untuk bekerja. Sementara, sekitar 83 persen menggunakannya untuk meningkatkan produktivitas,” jelasnya.
Sementara, Kepala Disdikbud Provinsi Kaltim, Armin, menilai kegiatan positif seperti ini sangat relevan dengan arah transformasi pendidikan di Bumi Etam.
“Pemerintah provinsi, kini terus mendukung inovasi dalam pembelajaran. Guru profesional yang mampu memanfaatkan AI akan bisa menciptakan proses belajar yang lebih adaptif dan menyenangkan. Namun, penggunaan AI harus tetap menjunjung tinggi kreativitas dan etika moral,” terangnya.
Di tempat yang sama, Wiwik Setiawati turut mendorong agar para guru agar tidak merasa khawatir bahkan terancam oleh kemajuan teknologi. Menurutnya, AI harus dianggap sebagai alat bantu untuk memudahkan pekerjaan mereka.
“AI bukan ancaman, tetapi alat bantu yang akan memudahkan pekerjaan mendidik. Profesi guru yang mulia, dan yakinlah AI tidak bisa menggantikan sentuhan manusia. Manfaatkan momentum kegiatan ini untuk belajar sebaik-baiknya,” pesannya.
Sependapat, Thamrin Kasman mengingatkan bahwa pemahaman dasar tentang AI menjadi bekal penting bagi pendidik di era digital. Maka itu, ia membeberkan tiga hal penting yang harus dikuasai oleh guru agar mampu memanfaatkan teknologi ini secara tepat dan bertanggung jawab.
“Pertama, jika kita tidak memahami AI, kita bisa menjadi salah satu korban, karena sulit membedakan mana yang asli dan palsu. Kedua, gunakan AI secara bijak agar tidak merugikan orang lain. Ketiga, manfaatkan AI untuk memudahkan pekerjaan dan memberi maslahat bagi banyak orang,” pungkasnya.









