Blawing Belareq Tokoh Adat Dayak Mahakam Ulu Raih Anugerah Kebudayaan Indonesia 2025
Jakarta, Sekaltim.co – Negara menegaskan keberpihakannya pada penjaga tradisi seperti Blawing Belareq, tokoh adat besar Dayak Bahau Busang dari Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur (Kaltim).
Blawing Belareq dari tokoh adat Mahakam Ulu menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2025 kategori Maestro Seni Tradisi. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, Rabu malam, 17 Desember 2025, di Ciputra Artpreneur, Jakarta.
Penghargaan ini menjadi pengakuan negara atas pengabdian panjang Blawing Belareq dalam menjaga, memimpin, dan mewariskan nilai-nilai adat Dayak di wilayah pedalaman Kalimantan Timur. Bagi masyarakat Mahakam Ulu—yang dikenal sebagai “Bumi Urip Kerimaan”—nama Blawing Belareq bukan sekadar tokoh adat, melainkan penjaga keseimbangan spiritual dan sosial komunitas.
Pemimpin Ritual Dayak Bahau Busang
Blawing Belareq dikenal sebagai “Dayung Ayaq” dalam kehidupan adat Dayak, yakni pemimpin ritual adat yang memegang peran sentral dalam berbagai upacara sakral. Ia kerap memimpin ritual adat penting masyarakat Long Gelit dan Bahau Busang, mulai dari upacara adat tradisional hingga seremoni yang berkaitan dengan siklus kehidupan masyarakat Dayak.
Kehadirannya tidak hanya dibutuhkan dalam ruang spiritual, tetapi juga dalam ruang sosial dan pemerintahan. Blawing Belareq sering terlibat dalam agenda-agenda resmi daerah, seperti menyambut tamu negara, mendampingi kegiatan pemerintahan, hingga memimpin prosesi pemberian gelar adat kepada pejabat setempat. Peran ini menegaskan posisinya sebagai jembatan antara adat, masyarakat, dan negara.
Mahakam Ulu, Rumah Keberagaman
Kabupaten Mahakam Ulu dikenal sebagai wilayah multikultural yang masyarakatnya hidup berdampingan dalam harmoni. Di tengah modernisasi dan keterbukaan wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia, keberadaan tokoh adat seperti Blawing Belareq menjadi penopang penting keberlanjutan identitas budaya lokal.
Penghargaan AKI 2025 kepada Blawing Belareq dipandang sebagai simbol pengakuan terhadap peran masyarakat adat Dayak dalam merawat kebudayaan Nusantara, khususnya dari wilayah pedalaman yang kerap luput dari sorotan publik.
Anugerah Kebudayaan Indonesia 2025
Malam Apresiasi Anugerah Kebudayaan Indonesia 2025 berlangsung khidmat dan penuh makna. Penghargaan disematkan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon didampingi Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, serta jajaran Kementerian Kebudayaan RI. Acara ini bertepatan dengan peringatan Hari Pantun Nasional, 17 Desember 2025.
Pada tahun ini, 31 penerima AKI dari seluruh Indonesia dianugerahi penghargaan dalam tujuh kategori, yaitu:
1. Maestro Seni Tradisi
2. Masyarakat Adat
3. Pelestari
4. Pelopor dan/atau Pembaharu Kebudayaan
5. Media
6. Anak
7. Sastra
Selain Blawing Belareq, penghargaan juga diberikan kepada sejumlah tokoh budaya nasional lintas generasi dan daerah.
Maestro dari Seantero Nusantara
Dari Aceh, Ceh M Din, maestro seni Didong Gayo asal Aceh Tengah, menerima AKI 2025 kategori Maestro Seni Tradisi. Selama lebih dari lima dekade, Ceh M Din mendedikasikan hidupnya untuk menjaga dan mengembangkan seni didong. Ia hadir mengenakan busana bermotif kerawang Gayo, simbol kuat identitas budaya yang dirawatnya seumur hidup.
Sementara itu, Dek Gam, pencipta tari Ratoh Jaroe, dianugerahi penghargaan kategori Pelopor dan/atau Pembaharu Kebudayaan atas kontribusinya mengembangkan seni pertunjukan Aceh ke tingkat nasional dan internasional.
Dari Sulawesi Barat, Muhammad Ridwan Alimuddin menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia kategori Pelopor dan/atau Pembaru 2025, sebagai pengakuan atas dedikasinya dalam pelestarian budaya maritim dan tradisi lokal Sulawesi.
Tokoh Sastra dan Generasi Muda
Nama-nama besar juga menghiasi daftar penerima AKI 2025. Di antaranya Sutardji Calzoum Bachri, sastrawan yang dikenal sebagai “Presiden Penyair Indonesia”, serta D. Zawawi Imron, penyair asal Madura yang dijuluki “Celurit Emas”.
Tak hanya tokoh senior, penghargaan juga diberikan kepada generasi muda. Aliya Murdoko, pelukis berusia 15 tahun dari Sanggar DAUN, menerima penghargaan sebagai bentuk pengakuan negara terhadap potensi dan kreativitas anak bangsa di bidang seni rupa.
Kehadiran Negara untuk Kebudayaan
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa Anugerah Kebudayaan Indonesia merupakan bentuk kehadiran negara dalam menghargai para pejuang kebudayaan.
“Kami di Kementerian Kebudayaan tentu mengapresiasi ini sebagai bentuk kehadiran negara dalam memberikan penghargaan kepada para maestro, pembaru, pelestari, hingga kategori anak, media, dan sastra. Semoga ini menjadi inspirasi bagi pejuang kebudayaan lainnya,” ujar Fadli Zon.
Ia menambahkan bahwa para penerima penghargaan adalah sosok-sosok yang telah mengabdikan waktu, tenaga, dan karya untuk perjalanan panjang kebudayaan Indonesia.
Menjaga Ingatan, Merawat Identitas
Anugerah Kebudayaan Indonesia 2025 menegaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar seni pertunjukan atau simbol seremonial. Ia adalah ingatan kolektif, identitas, dan nilai hidup yang dirawat lintas generasi.
Bagi Blawing Belareq dan masyarakat Dayak Mahakam Ulu, penghargaan ini bukan hanya pengakuan personal, tetapi juga penguatan eksistensi adat dan tradisi di tengah arus perubahan zaman. Negara hadir, adat tetap hidup, dan kebudayaan terus berdenyut dari pusat hingga pelosok Nusantara.
Berikut daftar para penerima penghargaan AKI 2025:
Kategori Maestro Seni Tradisi:
Tobani Rinyo Tiku
Bidang Kerajinan Kain Kulit Kayu
Siti Rahela
Bidang Seni Tari Tradisi
B. Blawing Belareq
Bidang Budaya Adat Suku Long Gelit dan Bahau Busang
M. Din
Bidang Seni Didong Gayo
Sangkeh
Bidang Seni Tembang Wawacan
Kategori Masyarakat Adat:
Baris Sitanggang
Asal Samosir, Sumatera Utara
Bidang Bius Sitolu Hae Horbo Salaon
Sutomo
Asal Probolinggo, Jawa Timur
Bidang Dukun Pandita Tengger
Eko Warnoto
Asal Pasuruan, Jawa Timur
Bidang Dukun Tengger Brang Kulon
Bambang Sutrisno
Asal Bojonegoro, Jawa Timur
Bidang Samin
Usif (Raja) Namah Benu
Asal Timor Tengah Selatan, NTT
Bidang Komunitas Adat Boti
Kategori Pelestari:
Uswatun Hasanah
Bidang Batik Tulis dan Tenun Gedog
Ika Arista
Pengetahuan Tradisional Keris
Felix Edon
Bidang Musik Tradisional Manggarai
Yohana
Bidang Tenun Kebat Dayak Mualang
Iswati Fersida
Bidang Musik Keroncong
Kategori Pelopor dan/atau Pembaru:
Muhammad Ridwan Alimuddin
Bidang Dokumentasi Budaya Maritim
Didin Ahmad Zaenudin
Bidang Pegiat Aksara Nusantara
Mustafa Mansur, S.S., M.Hum.
Bidang Sejarah
Moch. Awam Prakoso
Bidang Storytelling dan Mendongeng
Yusri Saleh
Pencipta Tari Ratoh Jaroe
Agus Dermawan Tantono
Bidang Literasi dan Kritik Seni
Kampung Seni Tegal
Bidang Seni Budaya
Kategori Media:
Rumah Sri Ksetra (Nopri Ismi)
Bidang multimedia
Jaya Baya (K. Sudirman, S.H.)
Bidang Jaya Baya
JTV (Rina Prabawati)
Bidang: Industri Televisi Lokal
Kategori Anak:
Aliya Sakina Murdoko
Bidang Seni Lukis
Adhyastha Swarna P. M.
Bidang Pedalangan dan Tari Klasik
Janessa Shanne Putri
Bidang Seni Vokal dan Musik
Kategori Sastra:
Godi Suwarna
Bidang Sastra
Sutardji Calzoum Bachri
Bidang Penyair
D. Zawawi Imron
Bidang Penyair dan Budayawan Madura
Apresiasi Khusus Menteri Kebudayaan: Satya Budaya Narendra
1. Jaya Suprana
2. Pieter F. Gontha
3. I Nyoman Wenten
4. Sunaryo Soetono
5. Elvy Sukaesih
6. Ary Ginanjar
7. Anhar Gonggong.
Demikian sekelumit kisah Blawing Belareq bersama tokoh budaya nasional lainnya yang menjadi penerima penghargaan Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2025. (*)









