Samarinda

Aksi Demo Mahasiswa di Korem Samarinda, Tuntut Pelaku Teror Air Keras Diadili Umum

Samarinda, Sekaltim.co – Aksi demonstrasi (demo) mahasiswa berlangsung di depan Markas Korem 091/Aji Surya Natakesuma (ASN), Samarinda, Rabu 8 April 2026. Aksi ini digelar sebagai bentuk solidaritas terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, yang menjadi korban penyiraman air keras.

Aksi demo mahasiswa di depan Markas Korem Samarinda ini berlangsung sejak Rabu siang di kawasan Jalan Gajah Mada, Kelurahan Bugis. Aparat TNI Polri sudah melakukan penjagaan. Ratusan personel gabungan dari Brimob Polda Kaltim dan Polresta Samarinda disiagakan untuk mengantisipasi potensi kericuhan.

Sejumlah kendaraan taktis seperti Water Cannon, truk Dalmas, hingga mobil rantis Brimob terlihat standby di sekitar lokasi. Bahkan, tiga unit mobil Brimob terparkir di sisi Jalan Sudirman sebagai langkah antisipasi.

Aksi yang diinisiasi Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (Geram) Kalimantan Timur (Kaltim) ini awalnya dijadwalkan mulai pukul 13.00 WITA. Namun, massa baru terlihat bergerak sekitar pukul 15.40 WITA dari Masjid Nurul Mu’minin menuju lokasi aksi.

Setibanya di depan markas Korem, massa langsung menggelar orasi bergantian. Mereka membawa spanduk tuntutan dan sempat membakar ban di badan jalan sebagai simbol perlawanan.

Dalam selebaran aksi, massa mengusung seruan “Tolak Impunitas oleh Militer, Seret Pelaku ke Pengadilan Umum” dengan tagar #SemakinDisiramMakinMenyala.

Humas aksi, M. Ryan Aprianto, menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar solidaritas, tapi juga bentuk tekanan agar kasus Andrie Yunus diproses secara terbuka melalui jalur hukum sipil.

“Ini aksi damai, tapi kami ingin ada kejelasan. Kami minta pelaku diadili di peradilan umum, bukan militer,” tegas Ryan di tengah orasi.

Mahasiswa juga membawa tujuh tuntutan utama. Di antaranya, mengungkap aktor intelektual di balik teror air keras, menolak UU TNI Nomor 3 Tahun 2025, serta mendesak audit penggunaan kekerasan di tubuh TNI.

Selain itu, massa meminta perlindungan bagi keluarga korban dan saksi, mendesak pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), hingga meminta TNI tidak mengintimidasi masyarakat sipil.

Situasi sempat memanas sekitar pukul 17.30 WITA saat sejumlah massa memanjat pagar dan masuk ke halaman depan Korem. Pembakaran ban pun sempat terjadi sehingga memunculkan api dan asap cukup tebal. Aparat langsung mengambil langkah persuasif untuk meredam situasi agar tidak terjadi bentrok.

Ketegangan juga terjadi ketika massa meminta dialog langsung dengan Danrem 091/ASN, namun tidak dipenuhi. Hal ini memicu aksi dorong-dorongan di depan gerbang.

Dandim 0901/Samarinda Kolonel Inf Arif Hermad akhirnya turun menemui massa. Ia menyatakan pihaknya menerima seluruh aspirasi yang disampaikan.

“Tuntutan ini kami terima dan akan kami laporkan ke pimpinan,” ujarnya.

Ia juga mengaku pihaknya terkejut dengan kasus yang menimpa Andrie Yunus dan sepakat bahwa peristiwa tersebut harus diusut tuntas.

“Masalah ini harus diungkap. Kami juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi,” tambahnya.

Meski sempat memanas, aksi berakhir kondusif. Sekitar pukul 18.00 WITA, massa membubarkan diri secara tertib.

Namun, mereka menegaskan akan kembali menggelar aksi lanjutan jika tuntutan tidak direspons serius, terutama terkait kehadiran langsung Danrem untuk berdialog.

Aksi demo mahasiswa di depan Markas Korem 091 Samarinda ini jadi sinyal kuat bahwa isu kekerasan terhadap aktivis masih jadi perhatian publik. Mahasiswa pun menegaskan, perjuangan belum selesai sampai keadilan benar-benar ditegakkan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button