News Sekaltim

Rudianto Amirta Resmi Dilantik sebagai Rektor Unmul, Simak Rekam Jejak Akademiknya

Sekaltim.co – Prof. Rudianto Amirta resmi dilantik sebagai Rektor Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda untuk periode 2026-2030, Selasa, 27 Oktober 2026. Guru Besar Fakultas Kehutanan tersebut kini mendapat amanah memimpin salah satu perguruan tinggi negeri terbesar di Kalimantan Timur.

Pelantikan Rudianto Amirta sebagai Rektor Unmul berlangsung di Graha Diktisaintek, lantai 2 Gedung D, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Jakarta. Prosesi tersebut digelar secara luring dan daring serta disiarkan melalui kanal YouTube resmi Kemdiktisaintek.

Rudianto sebelumnya terpilih sebagai rektor setelah mengalahkan petahana Prof. Abdunnur dalam pemilihan Rektor Unmul. Pergantian kepemimpinan ini menjadi babak baru bagi Unmul, terutama dalam memperkuat kualitas pendidikan, riset, dan kontribusi kampus bagi pembangunan daerah.

Namun, siapa sebenarnya Prof. Rudianto Amirta? Akademisi kelahiran Kalimantan Barat ini memiliki perjalanan panjang di bidang kehutanan, teknologi hasil hutan, hingga pengembangan energi terbarukan.

Profil Rudianto Amirta, Guru Besar Kehutanan Unmul

Prof. Rudianto Amirta lahir pada 25 Oktober 1972 di Pemangkat, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

Namanya dikenal di lingkungan Universitas Mulawarman melalui kiprah akademik dan penelitian di bidang kehutanan. Sebelum terpilih sebagai rektor, ia merupakan Guru Besar Fakultas Kehutanan Unmul di Samarinda.

Latar belakang pendidikannya juga berkaitan erat dengan teknologi hasil hutan dan pemanfaatan biomassa. Bidang tersebut memiliki peran penting dalam pengembangan teknologi pengolahan sumber daya alam yang lebih berkelanjutan.

Mengutip informasi dari laman resmi Universitas Mulawarman, Rudianto menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister di bidang Teknologi Hasil Hutan di Unmul.

Ia kemudian melanjutkan studi doktoral ke Kyoto University, Jepang, dan meraih gelar doktor pada 2005.

Saat menempuh pendidikan doktoral, Rudianto meneliti degradasi lignin oleh jamur white-rot serta produksi asam ceriporic. Penelitiannya juga mencakup pengolahan kayu untuk fermentasi metana yang berkaitan dengan pengembangan energi terbarukan.

Fokus tersebut memperlihatkan perhatian akademiknya terhadap pemanfaatan hasil hutan, pengolahan biomassa, dan pengembangan teknologi yang dapat memberikan nilai tambah bagi sumber daya alam.

Pernah Menjadi Asisten Profesor di Jepang

Pengalaman akademik Rudianto tidak terbatas di Indonesia.

Setelah menyelesaikan studi doktoral, ia menjalankan tugas sebagai Asisten Profesor di Laboratory of Biomass Conversion, Research Institute for Sustainable Humanosphere (RISH), Kyoto University, Jepang, pada 2006-2008.

Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya sebagai peneliti dan akademisi.

Setelah itu, Rudianto melanjutkan kiprahnya di Universitas Mulawarman. Ia juga dipercaya mengisi sejumlah posisi strategis dalam pengelolaan kampus.

Salah satunya adalah Direktur Kantor Urusan Internasional (KUI) Unmul pada 2015-2016.

Sebelumnya, ia menjabat Ketua Program Unggulan Internasional Unmul pada 2012-2015.

Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk terlibat dalam pengembangan program internasional dan memperluas hubungan akademik perguruan tinggi.

Dua Periode Pimpin Fakultas Kehutanan Unmul

Salah satu jabatan penting yang pernah diemban Rudianto adalah Dekan Fakultas Kehutanan (Fahutan) Universitas Mulawarman.

Ia menjabat selama dua periode, yakni 2016-2020 dan 2020-2024.

Pengalaman memimpin fakultas menjadi bekal tersendiri dalam memahami tata kelola pendidikan tinggi. Tanggung jawab tersebut mencakup pengembangan akademik, penelitian, serta pengelolaan sumber daya institusi.

Kini, pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan Rudianto menuju posisi tertinggi di Universitas Mulawarman.

Sebagai rektor, ia menghadapi tantangan yang lebih luas. Pengembangan kualitas pendidikan, peningkatan produktivitas riset, penguatan kolaborasi, dan peningkatan kontribusi kampus bagi masyarakat menjadi sejumlah aspek penting dalam pengelolaan perguruan tinggi.

Bagi Unmul, tantangan tersebut juga berkaitan dengan posisi strategis Kalimantan Timur sebagai wilayah yang menjadi pusat perhatian pembangunan nasional.

Terlibat dalam Pengembangan Kebijakan Kehutanan

Selain berkiprah di kampus, Rudianto pernah terlibat dalam pengembangan kebijakan sektor kehutanan.

Pada 2020-2023, ia tercatat sebagai anggota tim pakar di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Dalam peran tersebut, ia membantu kerja kementerian di bidang kehutanan dan lingkungan, khususnya terkait pengembangan multiusaha kehutanan.

Pengalaman ini mempertemukan perspektif akademik dengan kebutuhan pengelolaan sumber daya alam di tingkat kebijakan.

Latar belakang tersebut relevan bagi Kalimantan Timur yang memiliki kawasan hutan luas dan menghadapi tantangan dalam pengelolaan lingkungan, pemanfaatan sumber daya alam, serta pengembangan ekonomi berkelanjutan.

Tantangan Rudianto Memimpin Unmul hingga 2030

Pelantikan Rudianto menjadi bagian dari pengangkatan sejumlah pimpinan perguruan tinggi negeri oleh Kemdiktisaintek pada 27 Oktober 2026.

Selain Rudianto, pejabat yang dilantik meliputi Ridho Kresna Wattimena sebagai Rektor Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, Rossyda Priyadarshini sebagai Rektor UPN Veteran Jawa Timur, Noor Cholis Basjaruddin sebagai Direktur Politeknik Negeri Bandung, Riyadi Purwanto sebagai Direktur Politeknik Negeri Cilacap, dan Wiwik Endah Rahayu sebagai Direktur Politeknik Negeri Subang.

Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek Badri Munir Sukoco mengingatkan bahwa keberhasilan seorang pejabat tidak cukup diukur dari jabatan yang diemban.

“Ukuran keberhasilan sebuah jabatan bukanlah kedudukan yang dicapai, melainkan manfaat dan dampak yang dihasilkan,” ujar Badri melalui laman resmi Kemendiktisaintek.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi, pengembangan talenta, integritas, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Bagi pimpinan perguruan tinggi, Badri mendorong penguatan fungsi pendidikan, penelitian, serta pemanfaatan pengetahuan dan inovasi agar memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan industri.

Pesan itu menjadi landasan bagi para pimpinan kampus, termasuk Rudianto, bahwa perguruan tinggi perlu terus berkembang dan mampu menjawab kebutuhan pembangunan.

Dengan latar belakang akademik di bidang kehutanan, pengalaman riset internasional, serta rekam jejak kepemimpinan di Unmul, Rudianto kini mengemban tanggung jawab baru hingga 2030.

Perjalanan Rudianto Amirta sebagai Rektor Unmul akan menjadi bagian penting dari perkembangan perguruan tinggi ini dalam memperkuat pendidikan, riset, dan kontribusi bagi Kalimantan Timur (Kaltim). (*)

Tinggalkan Balasan

Back to top button