Nusantara

Banjir Bandang di Padang Rendam 120 Rumah, Petugas Damkar Terjang Arus Demi Evakuasi Warga

Sekaltim.co – Banjir bandang terjadi di Kota Padang, Sumatera Barat, pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Hujan deras sejak sekitar pukul 12.00 WIB bikin air sungai meluap dan merendam permukiman warga di tiga kecamatan.

Wilayah terdampak banjir di Padang ini meliputi Kecamatan Kuranji, Koto Tangah, dan Nanggalo. Berdasarkan data sementara hingga Minggu, 11 Oktober 2026, sebanyak 120 rumah terendam dan sekitar 225 kepala keluarga atau 498 jiwa terdampak.

Di tengah situasi mencekam itu, aksi heroik petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kota Padang ikut mencuri perhatian. Seorang petugas bernama Tri Ramadhani terlihat bertaruh nyali saat berusaha menjangkau warga yang terjebak banjir.

Petugas Damkar Padang Nekat Terjang Arus Deras

Dalam video yang direkam Humas Damkar Kota Padang, Tri Ramadhani terlihat berpegangan pada seutas tali untuk menyeberangi arus banjir yang deras di Kelurahan Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah.

Arus air yang kuat bikin proses evakuasi berlangsung menegangkan. Petugas tersebut bahkan sempat hilang dari pandangan karena nyaris terseret luapan air.

Namun, dengan tetap berpegangan pada tali, ia akhirnya berhasil mencapai seberang untuk menjangkau lokasi warga yang terisolasi.

Aksi ini menggambarkan beratnya perjuangan tim penyelamat di lapangan. Petugas harus menghadapi arus berbahaya demi membantu warga yang membutuhkan pertolongan.

Banjir Padang Berdampak pada 498 Jiwa

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyebut banjir melanda enam kelurahan di tiga kecamatan.

Wilayah tersebut meliputi Kelurahan Kuranji, Koto Panjang Ikua Koto, Batipuh Panjang, Lubuk Minturun, Tabing Banda Gadang, dan Gurun Laweh.

Selain 120 rumah terendam, lima rumah di Kecamatan Kuranji dilaporkan mengalami kerusakan. Rinciannya, empat rumah rusak sedang dan satu rumah rusak berat.

“Banjir berdampak pada sekitar 225 kepala keluarga atau 498 jiwa. Selain itu, sebanyak 672 jiwa dilaporkan mengungsi di Kecamatan Kuranji, tepatnya di Kelurahan Kuranji. Para pengungsi tersebar di tiga lokasi, yakni tenda pengungsian Lapau Munggu dan rumah warga sebanyak 367 jiwa, Mushalla Ar Ridwan Kampung Tangah sebanyak 250 jiwa, serta Warung Jembatan Guo sebanyak 55 jiwa. Data warga terdampak dan pengungsi tersebut masih dalam proses pendataan dan pemutakhiran,” ungkap Berton dalam keterangan tertulis, Minggu 11 Oktober 2026.

Banjir juga memutus akses jalan di kawasan Guo, Kecamatan Kuranji. Sejumlah tanggul, termasuk di kawasan Lapau Munggu dan Sungai Air Dingin, dilaporkan jebol.

Tim SAR gabungan dari BPBD, Basarnas, TNI, Polri, dan relawan telah mengevakuasi 238 warga ke lokasi aman. Hingga data tersebut disampaikan, belum ada laporan korban jiwa.

Sebanyak 672 Warga Mengungsi

Bencana ini juga memaksa ratusan warga meninggalkan rumah mereka. BNPB mencatat sebanyak 672 jiwa mengungsi di Kecamatan Kuranji.

Para pengungsi tersebar di tiga lokasi. Sebanyak 367 orang berada di tenda pengungsian Lapau Munggu dan rumah warga sekitar. Kemudian, 250 orang mengungsi di Musala Ar-Ridwan Kampung Tangah, sedangkan 55 orang berada di Warung Jembatan Guo.

Pemerintah daerah bersama Dinas Sosial mulai menyalurkan bantuan berupa makanan siap saji, selimut, paket kebutuhan keluarga, serta makanan dan pakaian untuk anak-anak.

Posko kesehatan darurat juga disiapkan untuk membantu warga, terutama lansia dan balita. Sementara itu, Polda Sumatera Barat mengerahkan 250 personel untuk berpatroli dan menjaga rumah-rumah yang ditinggalkan penghuninya selama mengungsi.

Warga Keluhkan Sistem Peringatan Dini Banjir

Di Perumahan Cluster Luminpark, Kecamatan Koto Tangah, warga mulai bergotong royong membersihkan rumah dari lumpur dan material yang terbawa banjir.

Namun, di tengah upaya pemulihan, sejumlah warga menyampaikan kekecewaan karena alat early warning system atau sistem peringatan dini banjir milik BPBD disebut tidak berfungsi saat air menerjang permukiman.

Wali Kota Padang Fadly Amran bersama jajaran pemerintah daerah dan kepolisian meninjau kawasan terdampak untuk memastikan penanganan darurat berjalan sesuai kebutuhan.

Perbaikan tanggul yang jebol di kawasan aliran sungai Lapau Munggu juga menjadi salah satu langkah yang direkomendasikan untuk mengurangi risiko banjir berikutnya.

Banjir ini menjadi pengingat bahwa penanganan bencana tidak cukup hanya lewat evakuasi dan bantuan darurat. Perbaikan infrastruktur sungai, pemeliharaan sistem peringatan dini, dan mitigasi di kawasan rawan perlu mendapat perhatian serius.

Hingga pendataan dampak banjir di Padang pada 11 Oktober 2026, data korban dan kerusakan masih bersifat sementara. Warga diimbau tetap waspada terhadap potensi banjir susulan dan mengikuti arahan petugas sebelum kembali ke rumah. (*)

Tinggalkan Balasan

Back to top button