News Sekaltim

Krisis Logistik di Pedalaman Kaltim, Pusat Kirim Pangan ke Mahakam Ulu

Sekaltim.co – Pemerintah pusat bergerak cepat menyikapi krisis logistik dan lonjakan harga beras di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) Kalimantan Timur (Kaltim), yang dilaporkan menembus hampir Rp1 juta per karung. Kondisi ini bukan sekadar angka, tapi peringatan keras bagi ketahanan pangan dan daya beli masyarakat di wilayah perbatasan yang selama ini bergantung pada jalur logistik terbatas.

Sebagai langkah antisipatif atas krisis logistik di pedalaman Mahulu Kaltim, Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Perum Bulog dan Satgas Pangan Polda Kaltim melakukan penyaluran bahan pangan dari Samarinda menuju Mahulu. Intervensi ini ditujukan untuk memastikan pasokan tetap tersedia sekaligus meredam gejolak harga yang melonjak dalam beberapa pekan terakhir.

Ketua Tim Kerja Stabilisasi Pasokan Pangan Bapanas, Yudhi Harsatriadi Sandyatma, menegaskan kehadiran lintas instansi merupakan wujud respons cepat negara. “Kami hadir bersama Polda Kaltim, Bulog Kanwil Kaltim-Kaltara, Bulog Cabang Samarinda, Dinas Ketahanan Pangan, dan rekan media. Ini respons atas informasi harga beras di Mahakam Ulu yang hampir mencapai Rp1 juta per karung,” ujarnya, Senin 9 Februari 2026.

Lonjakan harga paling terasa di wilayah pedalaman seperti Kecamatan Long Pahangai. Di daerah ini, harga beras 25 kilogram dilaporkan mencapai Rp1.000.000 per karung setara 25 Kg, sementara elpiji 12 kilogram menembus Rp800.000 per tabung. Padahal, dalam kondisi normal, beras dijual sekitar Rp450.000 per karung dan elpiji Rp350.000 per tabung.

Dari laporan Kompas, Lay (33), warga Long Pahangai, mengaku kondisi tersebut membuat warga makin terhimpit. “Di tempat kami harga beras sudah ada yang Rp1 juta per karung. Gas elpiji 12 kilogram sampai Rp800.000. Kalau begini terus, kami makin berat,” ujarnya, Senin 2 Februari 2026 lalu.

Keluhan serupa datang dari Kampung Long Isun. Lusia (32) menyebut harga kebutuhan pokok sudah naik sejak kapal angkutan sungai berhenti beroperasi. “Kalau kapal tidak jalan, barang susah masuk. Harga cepat naik, sementara kami tidak punya banyak pilihan,” katanya.

Di Ujoh Bilang, Kecamatan Long Bagun, situasi berbeda. Putry (27) mengatakan kemarau dua pekan terakhir memperparah distribusi. Debit air sungai menurun, kapal besar tak bisa melintas, sementara pengiriman via darat mahal dan akses jalan belum sepenuhnya memadai. “Kalau sungai surut, distribusi terpaksa pakai speed boat, biayanya jauh lebih mahal,” ujarnya.

Masalah logistik kian kompleks setelah 28 kapal angkutan barang dan penumpang rute Kukar–Kubar–Mahulu berhenti beroperasi sejak 23 Januari 2026. Ketua Organisasi Angkutan Mahakam Ulu (Orgamu), Husaini Anwar (69), menyebut penghentian terjadi akibat kosongnya stok BBM bersubsidi dan belum terbitnya rekomendasi baru sesuai aturan BPH Migas.

Akibatnya, kapal-kapal tertambat di dermaga, barang menumpuk, dan masyarakat menanti kepastian. Di Mahulu, krisis harga ini bukan soal spekulasi, tapi soal akses.

Kini warga Mahulu berharap krisis logistik di Kaltim bisa ditangani dengan intervensi pemerintah tak berhenti sekali jalan, melainkan konsisten hingga logistik kembali lancar dan beras Rp1 juta tinggal cerita pahit dari pedalaman. (*)

Beras Mahakam Ulu, harga pangan pedalaman, Bapanas, Bulog, distribusi pangan Kaltim, krisis logistik Mahulu, Mahakam Ulu, Kaltim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Sekaltim.co Ads

Silakan izinkan iklan jika memungkinkan. Dengan menonton iklan, Anda turut mendukung Sekaltim.co agar bisa terus menghadirkan konten gratis sebagai bagian dari komitmen kami merawat aspirasi dan memperkaya literasi. Terima kasih atas dukungan Anda!