Komaruddin Hidayat Sebut Media Mainstream Tetap Jadi Rujukan di Tengah Sensasi
Sekaltim.co – Di tengah riuh rendah media sosial yang penuh sensasi dan emosi, pers arus utama atau mainstream ternyata masih jadi pelabuhan terakhir masyarakat saat mencari kebenaran. Hal itu ditegaskan Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, dalam Konvensi Nasional Media Massa rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2026, Minggu 8 Februari 2026.
Komaruddin Hidayat menilai masyarakat Indonesia saat ini memang sedang “asyik bermain” di media sosial. Linimasa penuh warna, viral silih berganti, emosi naik-turun, sensasi berseliweran. Namun ketika publik mulai lelah, bingung, dan merasa terpapar informasi toxic, mereka kembali mencari sumber yang bisa dipercaya.
Ia mengibaratkan banjir informasi di media sosial seperti bencana banjir besar. “Dalam kondisi banjir, orang akhirnya mencari air bersih,” ujarnya. Menurut Komaruddin, di situlah peran pers bekerja—sebagai lembaga penyulingan informasi, yang memilah, memverifikasi, dan menyajikan fakta agar layak konsumsi publik.
“Suatu saat masyarakat akan jenuh dengan berita toxic. Ketika itu, pers menawarkan air bersih,” kata Komaruddin di hadapan insan pers yang hadir di Aston Serang Hotel, Banten, disiarkan di kanal Youtube Dewan Pers.
Ia menyebut sejumlah hasil penelitian juga menunjukkan kecenderungan serupa. Publik yang merasa lelah oleh derasnya informasi dari media sosial akan kembali menjadikan media mainstream sebagai rujukan utama. Fenomena ini, menurutnya, menegaskan bahwa pers masih memegang peran strategis sebagai sumber informasi yang kredibel dan bertanggung jawab.
Komaruddin menegaskan, meskipun media sosial saat ini masih menjadi pilihan utama dalam keseharian masyarakat, media arus utama tetap menjadi referensi kebenaran. “Ketika masyarakat dalam kebingungan, lelah, dan merasa toxic, yang dicari tetap media mainstream,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa era disrupsi media memang membuat banyak pihak gamang. Namun kondisi tersebut bukanlah hal baru dalam sejarah peradaban manusia. Disrupsi, kata dia, adalah bagian dari mata rantai perjalanan sejarah yang terus berulang dalam bentuk berbeda.
Dalam pemaparannya, Komaruddin membagi respons masyarakat terhadap disrupsi ke dalam tiga kelompok. Pertama, kelompok yang merasa selalu kalah dan sibuk mengeluh. Kedua, kelompok yang memilih sikap wait and see, bertahan sambil menyesuaikan diri. Ketiga, kelompok kreatif dan pionir yang justru melihat disrupsi sebagai peluang untuk membuka dunia baru.
Kelompok terakhir inilah yang didorong Komaruddin untuk terus tumbuh di kalangan insan pers. Ia mengajak jurnalis dan perusahaan media agar tetap optimistis, adaptif, dan kreatif, tanpa meninggalkan prinsip dasar jurnalistik.
Menurutnya, di tengah derasnya arus digital, pers justru ditantang untuk memperkuat kualitas, memperdalam verifikasi, dan menjaga integritas. Dengan begitu, ketika publik haus akan kebenaran, pers siap hadir sebagai sumber yang menenangkan. (*)









