Nusantara

All Eyes on Karhutla, Langit Seharusnya Biru! Pesan Suporter Sepak Bola untuk Indonesia

Sekaltim.co – Sepak bola punya cara sendiri menyuarakan fenomena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia melalui tagline All Eyes on Karhutla. Kancah ini bukan lagi bicara soal gol, kemenangan, atau rivalitas antarsuporter. Apakah aksi serupa juga terjadi di Kalimantan dan wilayah lain yang mengalami karhutla?

All Eyes on Karhutla menggema di stadion, diwarnai nyala flare di jalanan, jauh dari area bara dan lelatu yang bertebaran. Ini juga menjadi tempat untuk menyuarakan keresahan yang jauh lebih besar.

Hal itulah yang terlihat saat Bobotoh, suporter Persib Bandung, mengangkat isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lewat kampanye All Eyes on Karhutla.

Aksi tersebut mencuri perhatian dalam pertandingan Persib Bandung vs Persik Kediri di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Minggu malam, 18 Oktober 2026. Di tengah riuhnya dukungan untuk Maung Bandung, sejumlah Bobotoh membentangkan spanduk berukuran besar dengan pesan yang langsung menohok.

“All Eyes on Karhutla” dan “Langit Seharusnya Biru!” menjadi kalimat utama yang mereka bawa ke tribun. Ada pula pesan “No Forest No Future” yang mengingatkan bahwa hutan punya peran penting bagi masa depan manusia.

Pesannya sederhana, tetapi maknanya dalam. Bobotoh ingin publik tidak berpaling dari persoalan karhutla dan dampaknya yang masih menghantui sejumlah wilayah Indonesia.

All Eyes on Karhutla, dari Tribun untuk Lingkungan

Aksi solidaritas Bobotoh berlangsung menjelang pertandingan. Seruan tersebut hadir di tengah lagu Indonesia Raya dan atmosfer stadion yang dipenuhi semangat suporter.

Beberapa suporter juga terlihat mengenakan masker. Atribut itu menjadi simbol keprihatinan terhadap kabut asap dan kualitas udara yang memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan, terutama di Sumatra dan Kalimantan.

Buat anak muda, pesan ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Udara bersih seharusnya menjadi sesuatu yang bisa dinikmati semua orang, bukan kemewahan yang hanya hadir ketika musim kebakaran berakhir.

Kampanye All Eyes on Karhutla juga mengadaptasi gaya gerakan digital “All Eyes on Rafah” di Palestina yang sebelumnya populer untuk menarik perhatian publik terhadap berbagai persoalan kemanusiaan dan lingkungan.

Lewat pesan tersebut, Bobotoh mengajak masyarakat untuk terus melihat kondisi hutan Indonesia. Mereka juga mengingatkan bahwa persoalan karhutla tidak cukup diselesaikan dengan unggahan viral atau pernyataan prihatin.

Dibutuhkan penanganan serius, pengawasan, dan penegakan hukum agar kebakaran serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.

Kebakaran Hutan 2026 Belum Sepenuhnya Terkendali

Pesan Bobotoh muncul ketika karhutla masih menjadi persoalan besar di Indonesia. Kebakaran yang berlangsung selama berbulan-bulan telah memicu kabut asap, merusak ekosistem, dan mengganggu aktivitas masyarakat.

Data SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat sekitar 202.000 hektare lahan terbakar hingga Juli 2026. Angka tersebut menunjukkan besarnya tantangan yang harus dihadapi dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Enam provinsi menjadi prioritas penanganan pemerintah, yakni Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Riau.

Berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan hingga Sabtu, 17 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB, secara nasional terdeteksi 270 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence. Jumlah tersebut turun 84 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencatat 354 hotspot.

Pada enam provinsi prioritas karhutla, jumlah hotspot turun dari 177 menjadi 125 titik, atau berkurang 52 titik, dengan rincian:

• Kalimantan Tengah: 92 titik, naik dari 19 titik;
• Kalimantan Barat: 22 titik, turun dari 24 titik;
• Sumatera Selatan: 9 titik, turun dari 132 titik;
• Kalimantan Selatan: 2 titik, sebelumnya nihil;
• Jambi: 0 titik, turun dari 2 titik; dan
• Riau: 0 titik, tetap nihil hotspot high confidence.

Berbagai langkah dilakukan untuk mengendalikan api. Upaya tersebut mencakup pemadaman darat, operasi water bombing menggunakan helikopter, Operasi Modifikasi Cuaca, hingga penegakan hukum terhadap pihak yang diduga bertanggung jawab.

Meski begitu, penanganan karhutla bukan perkara mudah. Lahan gambut menjadi salah satu tantangan terbesar karena api dapat bertahan di bawah permukaan tanah. Kondisi ini membuat kebakaran berpotensi muncul kembali meski bagian atas lahan terlihat sudah padam.

Perubahan cuaca juga memengaruhi proses pemadaman. Hujan bisa membantu mengurangi risiko kebakaran, tetapi api yang telanjur menjalar di lahan gambut tetap membutuhkan penanganan khusus.

Hotspot Turun, Ancaman Asap Tersisa

Pemantauan SiPongi hingga 17 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB mencatat 270 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di seluruh Indonesia. Jumlah itu turun 84 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 354 titik.

Di enam provinsi prioritas, jumlah hotspot juga berkurang dari 177 menjadi 125 titik.

Namun, penurunan tersebut belum berarti persoalan selesai. Kalimantan Tengah masih menjadi perhatian dengan 92 titik panas, meningkat dari 19 titik pada hari sebelumnya.

Sementara itu, Sumatra Selatan mencatat sembilan titik, Kalimantan Barat 22 titik, dan Kalimantan Selatan dua titik. Jambi dan Riau tidak mencatat hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi pada pemantauan tersebut.

Angka ini menggambarkan situasi yang dinamis. Kondisi di satu wilayah bisa membaik, sementara daerah lain justru menghadapi peningkatan titik panas.

Dampaknya pun tidak berhenti pada pohon yang terbakar. Kabut asap dapat memperburuk kualitas udara, meningkatkan risiko gangguan pernapasan, serta menghambat kegiatan sekolah, pekerjaan, dan transportasi.

Karena itu, persoalan karhutla perlu dilihat sebagai masalah lingkungan sekaligus persoalan kesehatan dan keselamatan masyarakat.

Mengapa Aksi Bobotoh Penting?

Di tengah situasi tersebut, aksi All Eyes on Karhutla memperlihatkan bahwa komunitas suporter punya ruang untuk menyuarakan isu di luar sepak bola.

Selama ini, tribun identik dengan nyanyian dukungan, koreografi, dan rivalitas. Namun, aksi Bobotoh menunjukkan bahwa ruang tersebut juga bisa digunakan untuk menyampaikan pesan sosial.

Jangkauan kampanye semakin luas ketika foto dan video aksi menyebar melalui X, Instagram, Threads, dan TikTok. Tagar #AllEyesOnKarhutla ikut membawa isu kebakaran hutan ke percakapan publik.

Bagi generasi muda, gerakan seperti ini bisa menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan lingkungan. Tidak semua orang mengikuti laporan pemerintah atau membaca data kebakaran setiap hari. Namun, pesan singkat di stadion bisa membuat mereka berhenti sejenak dan bertanya: apa yang sebenarnya terjadi dengan hutan Indonesia?

Tentu, viral saja tidak cukup. Perhatian publik perlu diikuti tindakan nyata, mulai dari menjaga lingkungan, menyebarkan informasi yang akurat, hingga mendorong transparansi penanganan kebakaran dan penegakan hukum.

Pesan “Langit Seharusnya Biru!” juga mengingatkan bahwa dampak kerusakan lingkungan tidak mengenal batas wilayah. Asap dapat bergerak melintasi daerah, mengganggu kehidupan masyarakat, bahkan menjangkau negara tetangga.

Persib Menang, Pesan Lingkungan Menggema

Di atas lapangan, Persib Bandung menutup pertandingan melawan Persik Kediri dengan kemenangan 1-0. Namun, perhatian pada malam itu tidak hanya tertuju pada hasil pertandingan.

Spanduk yang dibentangkan Bobotoh membawa pesan bahwa ada persoalan yang membutuhkan perhatian bersama, bahkan ketika sorotan publik sedang tertuju pada sepak bola.

Kampanye All Eyes on Karhutla menjadi pengingat bahwa hutan bukan sekadar hamparan pepohonan. Hutan menopang kehidupan, menjaga keseimbangan ekosistem, dan membantu memastikan generasi berikutnya tetap bisa menikmati udara bersih.

Karhutla mungkin tidak selalu menjadi topik utama setelah pertandingan selesai. Akan tetapi, dampaknya bisa berlangsung jauh lebih lama daripada 90 menit di lapangan.

Lewat pesan dari tribun, Bobotoh mengajak publik untuk tidak cepat melupakan persoalan tersebut. Sebab, kemenangan tim kesayangan memang layak dirayakan, tetapi masa depan lingkungan juga tidak boleh diabaikan.

Langit yang biru seharusnya bukan sekadar tulisan di spanduk. Itu adalah harapan agar masyarakat Indonesia bisa bernapas lega, hutan tetap terjaga, dan kebakaran tidak terus menjadi cerita berulang setiap tahun.

All Eyes on Karhutla menjadi pesan dari arena sepka bola. Selama kondisi belum benar-benar terkendali, pesan itu akan tetap relevan: jangan alihkan pandangan, jangan abaikan dampaknya, dan terus dorong aksi nyata untuk melindungi hutan Indonesia. (*)

Tinggalkan Balasan

Back to top button