Tomsi Tohir Sindir Daerah Soal Harga Bawang dan Cabai yang Tak Selesai dalam 163 Kali Rapat
Sekaltim.co – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendagri, Komjen Pol. Drs. Tomsi Tohir Balaw, M.Si., secara tegas menyoroti masalah klasik: harga cabai dan bawang yang tak kunjung stabil. Tomsi menyampaikannya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin 13 April 2026, berlangsung panas.
Tomsi Tohir bahkan menyentil keras kepala daerah dalam rapat virtual yang diikuti pemerintah pusat dan daerah se-Indonesia itu. Menurutnya, Indonesia adalah negara kuat, tapi masih “kalah” dalam urusan sederhana seperti harga pangan.
“Negara kita ini hebat. Harga BBM kita masih Rp9.300, sementara Singapura bisa Rp55.000 per liter. Tapi urusan cabai dan bawang, nggak selesai-selesai,” tegasnya dalam rapat yang disiarkan di kanal Youtube Kemendagri.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi nasional April 2026 tercatat 0,41 persen secara bulanan dan 3,48 persen secara tahunan. Sementara data SP2KP menunjukkan sejumlah komoditas mulai merangkak naik, seperti bawang merah, cabai rawit, minyak goreng, telur, hingga daging ayam.
Yang bikin miris, kenaikan harga di beberapa daerah terbilang ekstrem. Bawang merah di Kabupaten Supiori melonjak hingga 92,77 persen di atas harga eceran tertinggi (HET). Sementara cabai rawit merah di Kabupaten Kepulauan Aru bahkan tembus 203,44 persen.
Tomsi pun mempertanyakan keseriusan daerah dalam mengatasi masalah ini. Ia menyarankan solusi sederhana: tanam sendiri.
“Nanam cabai itu gampang. Di pot aja, siram, tinggal tidur, tumbuh,” tegas Tomsi.
“Kalau masyarakat suka makan cabai, cobalah usaha. Coba pikirkan ada tanggung jawab sedikit,” sindirnya.
Ia juga mendorong pemerintah daerah memanfaatkan BUMD atau menggandeng pihak ketiga untuk produksi bawang dan cabai lokal. Menurutnya, jika harga tinggi, justru peluang untung semakin besar.
“Mohon maaf kalau saya sampai bilang seperti ini. Kenapa? Ini permasalahan klasik, itu-itu terus. Kita selalu berhadapan kita dengan cabai, bawang. Padahal di dunia internasional kita lihat bagaimana ketangguhan negara kita. Yang lain harganya naik kita nggak naik tuh BBM,” ujarnya.
Menariknya, rapat pengendalian inflasi ini sudah digelar sebanyak 163 kali sejak 22 September 2022. Namun, masalah yang dibahas masih itu-itu saja.
Tomsi mengaku heran, karena daerah penggemar cabai seperti Sumatra, Sulawesi Utara, hingga Indonesia Timur masih terus mengalami lonjakan harga.
“Masak kita nggak paham kebutuhan masyarakat sendiri?” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa stabilitas harga pangan jauh lebih penting karena menyangkut kebutuhan harian masyarakat makan tiga kali sehari. Ini kebutuhan utama dan jangan dianggap sepele.
Rakor ini juga membahas dukungan daerah terhadap Program 3 Juta Rumah serta sosialisasi jaminan produk halal. Selain itu, pemerintah pusat melalui Perum Bulog dan Kementerian Perdagangan terus menyalurkan bantuan pangan seperti beras SPHP dan minyak goreng Minyakita.
Tomsi Tohir berharap tidak ada lagi pembahasan berulang soal cabai dan bawang di masa depan. Ia meminta kepala daerah lebih proaktif dan punya rasa tanggung jawab terhadap kondisi pangan di wilayah masing-masing. (*)






