Wawali Samarinda Tegaskan Jaga Inflasi, Soroti Distribusi hingga Kemacetan
Samarinda, Sekaltim.co – Wakil Wali (Wawali) Saefuddin Zuhri menegaskan komitmen Pemerintah Kota Samarinda dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah khususnya pengendalian inflasi. Hal ini disampaikan saat mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah secara virtual, Senin 13 April 2026 diikuti jajaran pemerintah pusat hingga daerah di seluruh Indonesia.
Rakor inflasi yang diikuti jajaran Pemkot Samarinda ini dipimpin Sekretaris Jenderal Kemendagri, Tomsi Tohir Balaw. Rapat juga membahas evaluasi Program 3 Juta Rumah dan sosialisasi jaminan produk halal.
Dalam kesempatan itu, Saefuddin didampingi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Samarinda, termasuk Kepala Bagian Perekonomian Setda, Nadya Turisna.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi nasional April 2026 tercatat 0,41 persen secara bulanan dan 3,48 persen secara tahunan. Sementara itu, inflasi Kota Samarinda berada di angka 3,92 persen, sedikit di atas target nasional 3,5 persen, namun mulai menunjukkan tren penurunan.
Menanggapi hal tersebut, Saefuddin menegaskan bahwa kunci pengendalian inflasi ada pada dua hal utama: ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi.
“Pengendalian inflasi harus difokuskan pada dua aspek utama, yakni ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi,” ujarnya melalui keterangan tertulis Humas Pemkot Samarinda.
Ia juga memastikan bahwa kondisi energi di Samarinda masih aman. Pihak Pertamina melaporkan tidak ada kenaikan harga BBM, baik subsidi maupun nonsubsidi. Selain itu, stok LPG subsidi juga dalam kondisi cukup.
Namun, Saefuddin menyoroti satu masalah krusial yang berdampak langsung pada harga barang, yakni kemacetan. Ruas Gunung Manggah, Sambutan hingga Palaran disebut sering mengalami kepadatan, terutama saat jam sibuk pagi dan sore.
Menurutnya, kondisi ini menghambat distribusi logistik dan berpotensi memicu kenaikan harga kebutuhan pokok.
Dari data Dinas Perdagangan, sejumlah harga komoditas di Samarinda relatif stabil. Meski begitu, beberapa masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Harga beras tercatat Rp17.500/kg, gula Rp19.600/kg, bawang merah Rp49.000/kg, dan daging sapi Rp165.000/kg.
Sementara itu, harga cabai juga cukup tinggi, seperti cabai rawit yang mencapai Rp86.000/kg dan cabai tiung Rp78.000/kg.
Pemkot Samarinda juga terus memperkuat kerja sama antardaerah, mengingat kota ini bukan penghasil utama komoditas pangan. Selain itu, inovasi digital juga didorong, salah satunya lewat aplikasi pemantauan harga agar masyarakat bisa mengakses informasi secara cepat dan akurat.
Dari sisi cadangan pangan, Perum Bulog Samarinda melaporkan stok beras medium mencapai 8.868 ton, beras premium 256 ton, serta Minyakita sebanyak 205.556 liter. Penyerapan gabah juga terus dilakukan, termasuk dari wilayah sekitar seperti Marangkayu Kutai Kartanegara (Kukar).
Menutup rakor inflasi di Samarinda, Saefuddin mengajak semua pihak untuk terus bersinergi menjaga stabilitas harga. “Ini menjadi evaluasi bersama. Dengan kerja sama dan langkah yang tepat, kita optimistis harga komoditas dapat tetap terjangkau dan stabil bagi masyarakat,” katanya. (*)









